Rabu, 05 Oktober 2011

Teknik Kesuburan dengan Kedelai Lebih Ampuh dari Bayi Tabung

Tidak semua orang berhasil hamil dengan menggunakan teknik bayi tabung. Kini peneliti menemukan teknik kesuburan berbahan dasar kedelai yang bisa meningkatkan kemungkinan hamil hingga 6 kali lipat.

Percobaan perawatan kesuburan yang berbahan dasar kedelai ini bisa meningkatkan kemungkinan hamil hingga 6 kali lipat, serta menghambat senyawa kimia yang bisa menyebabkan keguguran.

Berdasarkan studi ini didapatkan ketika seorang perempuan tidak berhasil hamil dengan menggunakan teknik bayi tabung atau IVF (in vitro fertilization), maka sekitar setengahnya berhasil hamil dengan menggunakan teknik berbahan dasar kedelai.

Setiap hari selalu ada perempuan-perempuan yang telah berkali-kali melakukan IVF dengan hasil negatif dan tidak ada bayi, serta pasangan yang mengalami keguguran berulang. Proses kegagalan dan keguguran ini tidak hanya merugikan faktor finansial, tapi juga berpengaruh terhadap emosional seseorang.

"Saya percaya bahwa satu dari empat perempuan yang berjuang untuk hamil memiliki sistem kekebalan tubuh yang rusak. Tingkat ekstra sel darah putih yang tinggi bisa memicu produksi bahan kimia yang dapat menyerang plasenta atau embrio," ujar Dr George Ndukwe dari Care fertility clinic di Nottingham, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (4/1/2011).

Studi ini melibatkan 100 perempuan yang mengalami kegagalan IVF berulang akibat embrio yang tidak tertanam di dalam rahim. Sekitar 50 perempuan diberikan cairan infus Intralipid, yaitu suatu cairan yang berisi zat dasar dari minyak kedelai. Sedangkan sisanya tidak diberikan cairan tersebut.

Intralipid biasanya digunakan untuk konsumsi makanan bagi pasien yang tidak bisa makan, mengalami cedera parah atau pembedahan yang membuatnya tidak bisa makan secara normal. Cairan ini diberikan melalui tabung dan masuk ke dalam pembuluh darah.

Diketahui sekitar 50 persen perempuan yang menerima cairan intralipid berhasil hamil, sedangkan kelompok yang tidak diberikan intralipid kurang dari 9 persen yang hamil. Karenanya para dokter percaya bahwa cairan intralipid bisa membantu lebih banyak perempuan dalam mewujudkan impiannya untuk memiliki anak.

Dr Ndukwe menuturkan Infus Intralipid ini memiliki harga yang lebih murah, ditoleransi dengan baik, mudah dilakukan dan lebih efektif dalam menghentikan produksi bahan kimia berbahaya. Studi terbaru ini akan dipresentasikan dalam konferensi British Fertility Society pada 6 Januari 2011.

Kesuksesan Bayi Tabung Bisa Diprediksi dengan Tes Hormon

Teknologi bayi tabung telah berhasil mengatasi berbagai hal yang menghalangi pasangan untuk punya anak, namun tetap ada kondisi tertentu yang bisa menggagalkannya. Sukses tidaknya bayi tabung kini bisa diprediksi dengan tes hormon.

Salah satu penghalang kesuksesan bayi tabung adalah usia produktif seorang perempuan, sebab pada usia tertentu rahimnya tidak lagi memungkinkan untuk pertumbuhan janin. Meski sel telur bisa dibuahi di luar kandungan, embrio itu tidak akan tumbuh ketika dikembalikan ke rahim.

Prof Scott Nelson dari Glasgow University mengatakan, usia produktif perempuan untuk bisa hamil dengan sukses melalui program bayi tabung bisa diprediksi dengan tes hormon. Hormon yang dipakai adalah hormon Anti Mullerian (AM) yang berkurang ketika rahim tidak mampu lagi ditumbuhi janin.

Survei yang dilakukannya terhadap 3.200 perempuan sehat di Skotlandia menunjukkan, beberapa perempuan mengalami penurunan kadar hormon AM lebih cepat dibanding perempuan lain yang seusia. Berapapun usianya, perempuan yang mengalami penurunan hormon AM cenderung sulit hamil lewat hubungan seks.

Hal yang sama juga berlaku untuk kehamilan melalui program bayi tabung, yakni proses mengawinkan sperma dengan sel telur di laboratorium. Jika kadar hormon AM berkurang, seorang perempuan cederung sulit menumbuhkkan embrio yang ditanam ke dalam rahimnya.

Menurut Prof Nelson, hormon AM menggambarkan aktivitas indung telur wanita seumur hidupnya dan memberikan perkiraan pasokan sel telur yang tersisa. Artinya saat kadar hormon AM menurun, sebenarnya masih ada peluang untuk hamil namun belum tentu janinnya bisa tumbuh.

Hanya saja karena belum ada data statistik yang cukup kuat, tes hormon AM untuk mengetahui peluang kesuksesan bayi tabung belum bisa diterapkan secara luas. Masih butuh penelitian lebih lanjut, namun setidaknya hasil penelitian ini memberi harapan bagi terciptanya metode tes tersebut.

"Kami sekarang dapat menafsirkan hormon Anti Mullerian dengan yakin, dan itu adalah langkah besar dalam memastikan potensi masa reproduksi pasien," ungkap Prof Nelson seperti dikutip dari WebMD, Jumat (12/8/2011).

Terlalu Khawatir Pada Bayi Bisa Memicu Gangguan Obsesif

Setiap ibu yang baru melahirkan pasti merasa cemas karena takut tidak bisa merawat bayinya dengan baik. Tapi sebaiknya jangan berlebihan, karena terlalu cemas dan khawatir bisa memicu terjadinya gangguan obsesif.

Kekhawatiran yang berlebihan bisa berkembang menjadi obsesi yang salah. Para ahli menyebut kondisi ini dengan postpartum obsessive compulsive disorder (postpartum OCD). Hal ini bisa mendorong perempuan mengambil langkah ekstrem untuk mencegah ketakutannya menjadi nyata.

Salah satu contohnya adalah tidak berhenti mencuci baju bayi karena ingin mencegah kuman agar si bayi tidak sakit, atau menolak menggendong bayinya karena takut membuatnya terjatuh.

"Sangat normal bagi orangtua untuk mencoba melindungi dan menjaga anak-anaknya agar tetap aman. Tapi apa yang terjadi pada ibu dengan OCD adalah kewaspadaan dan kekhawatiran yang terlalu tinggi," ujar Kiara Timpano dari University of Miami di Florida, seperti dikutip dari HealthDay, Jumat (9/9/2011).

Timpano menuturkan kondisi ini juga membuat ibu tertekan oleh pikirannya sendiri dan mencoba mengendalikannya melalui perilaku ritualistik atau berulang. Gejala yang timbul bisa mengganggu kehidupannya dan berbahaya bagi ibu dan anaknya.

Hingga saat ini tidak diketahui apa pemicunya, tapi perempuan yang pernah mengalami gangguan kecemasan atau OCD sebelum melahirkan lebih rentan mengalami postpartum OCD. Hal ini karena memiliki bayi adalah transisi kehidupan yang sangat besar dan disertai dengan perubahan fisiologis dan hormon yang bisa berkontribusi.

Meski begitu beberapa orang ada yang keliru antara postpartum OCD dengan psikosis postpartum (bentuk parah dari depresi yang mana ibu mengalami delusi). Perbedaan yang paling jelas terlihat adalah pada ibu dengan psikosis postpartum ada risiko ia menyakiti bayinya sedangkan ibu dengan postpartum OCD berisiko kecil menyakiti bayinya.

OCD umumnya sulit diobati, tapi terapi perilaku kognitif bisa membantu mengajarkan cara-cara mengatasi dan mengubah pikiran yang mengkhawatirkan. Sednagkan bagi ibu yang mengalami depresi dan postpartum OCD maka penggunaan antidepresan bisa mengurani gejala.

Sepertiga Remaja Percaya Seks Pertama Kali Tidak Bikin Hamil

Beberapa mitos seputar seks masih banyak beredar di masyarakat. Diketahui sekitar 31,5 persen remaja di Indonesia masih percaya bahwa hubungan seks yang pertama kali tidak menyebabkan hamil.

Survei yang dilakukan oleh PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) pada tahun 2010 ini melibatkan 2.400 remaja berusia 10-24 tahun. Hasilnya sekitar 31,5 persen remaja percaya hubungan seks pertama kali tidak menyebabkan kehamilan dan sekitar 60 persen remaja percaya bahwa keperawanan bisa dilihat dari fisik.

"Banyaknya remaja yang masih percaya pada mitos merupakan salah satu masalah seksualitas di kalangan remaja," ujar Dr Sarsanto Wibisono, SpOG selaku ketua pengurus harian PKBI dalam acara press conference Hari Kontrasepsi Dunia 2011 di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (29/9/2011).

Dr Sarsanto menuturkan masalah seksualitas remaja lainnya adalah narkoba, karena kalau orang sudah kecanduan narkoba dan tidak memiliki uang maka ia akan melakukan apapun termasuk menjual dirinya. Jadi ada kecenderungan narkoba mengacu pada kehamilan yang tidak diinginkan.

"Kehamilan yang tidak diinginkan ini akan berujung pada kehilangan hak dasar pendidikan, karena biasanya perempuan yang hamil akan dikeluarkan dari sekolah," ungkapnya.

Beberapa orang yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan ini ada yang terus dilanjutkan, melakukan aborsi secara aman atau ada juga yang melakukan aborsi tidak aman seperti minum jamu-jamuan atau dipijat.

"Aborsi yang tidak aman ini menyumbang sekitar 15-30 persen dari jumlah kematian ibu," ujar Dr Sarsanto yang lahir di Purbalingga 64 tahun silam.

Dr Sarsanto menuturkan diperlukan program edukasi yang difokuskan pada remaja. Edukasi pada remaja ini diharapkan bisa membuat mereka lebih memahami dan mampu membuat keputusan secara bertanggung jawab serta mempraktekkan kesehatan reproduksi dan seksual dengan tetap memperhatikan hak-hak kesehatan reproduksinya.

Untuk itu pengetahuan mengenai keluarga berencana (KB) yang meliputi pemberian informasi dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar harus diberikan sejak dini, sehingga para remaja ini tidak lagi memprcayai mitos-mitos yang ada.

Mitos-mitos lain yang masih beredar di masyarakat antara lain:
1. Seseorang tidak akan hamil jika melakukan senggama terputus atau mengeluarkan penis sebelum mencapai orgasme.
2. Seseorang tidak akan hamil jika melakukan hubungan seks dalam posisi berdiri.
3. Seseorang tidak akan hamil jika ia segera mandi setelah berhubungan seks.

Selasa, 04 Oktober 2011

Kelamaan Menunda Kehamilan Bakal Bebani Anak di Masa Depan

Gaya hidup moderen yang serba sibuk membuat banyak pasangan menunda punya anak. Namun jika ditunda terlalu lama, kelak anaknya akan terbebani berbagai masalah kesehatan serta tanggung jawab untuk merawat orangtua yang mulai jompo.

Seorang dokter kandungan dari King Edward Memorial Hospital (KEMH) di Perth Australia, Dr Barry Walters bahkan mengatakan bahwa kecenderungan menunda kehamilan adalah sikap yang egois. Apapun alasannya, punya anak di usia terlalu tua hanya menguntungkan pasangan itu sendiri.

Pada perempuan khususnya, makin tua usia saat hamil maka risikonya makin tinggi. Baik perempuannya itu sendiri maupun janin yang dikandungnya akan lebih rentan mengalami berbagai masalah mulai dari kelebihan gula darah, hingga tekanan darah tinggi.

"Makin tua usia perempuan saat hamil, makin besar kemungkinan untuk menghadapi berbagai masalah medis," ungkap Dr Walters seperti dikutip dari Ninemsn, Rabu (5/10/2011).

Komentar ini disampaikan Dr Walters mengingat belakangan ini makin banyak perempuan dan pasangan subur pada umumnya yang menunda kehamilan. Bukan hanya faktor usia, kadang-kadang pasangan tersebut tidak memperhitungkan faktor lain yang mengganggu kehamilan termasuk kegemukan.

Dr Walter menyarankan, para perempuan sebaiknya mulai membatasi kehamilan sejak usia 37 tahun. Kalaupun masih ingin hamil di usia lebih tua dari itu, maka harus didahului dengan pemeriksaan medis dan program diet untuk mengendalikan berat badan.

Sebagai dokter kandungan, ia juga kurang mendukung adanya program bayi tabung yang memungkinkan para perempuan bisa hamil di usia berapapun selama masih memiliki sel telur. Menurutnya teknologi ini hanya semakin meningkatkan kecenderungan untuk menunda punya anak.

Selain masalah medis, Dr Walters juga memperingatkan risiko lain yang harus ditanggung oleh anak akibat keputusan orangtuanya untuk menunda kehamilan. Saat tumbuh dewasa, anak-anak tersebut menanggung beban lebih berat dibanding teman sebayanya karena harus mengurus orangtuanya yang sudah jompo.

4 Nutrisi Vital untuk Kesehatan Otak

Otak bisa jadi seperti 'CPU' bagi tubuh karena tubuh tidak bisa bekerja jika otak tak berfungsi dengan baik. Untuk itu agar fungsinya tetap baik dan optimal, maka otak membutuhkan 4 nutrisi penting ini.

Otak adalah organ yang paling penting untuk mendukung atau mengatur fungsi organ-organ lainnya. Selain itu organ ini juga mengatur sendiri kebutuhan akan 'bahan bakar' atau nutrisinya agar bisa terpelihara dan berfungsi dengan baik.

Jika otak mendapatkan asupan yang tepat maka ia akan mampu memberikan sinyal-sinyal yang tepat sehingga tubuh mampu melakukannya dengan benar. Berikut ini adalah 4 nutrisi yang penting untuk otak, seperti dikutip dari Lifemojo, Rabu (5/10/2011) yaitu:

1. Asam lemak esensial
Asam lemak memainkan peran penting dalam mempromosikan pertumbuhan serta perkembangan otak. Nutrisi ini juga meningkatkan sirkulasi darah, mencegah depresi dan sebagai penguat suasana hati yang menyenangkan sehingga memberikan efek positif dan vitalitas ke otak.

Asam lemak yang bertanggung jawab untuk meningkatkan fungsi otak ini termasuk ALA (alpha linolenic acid), EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid). Sumbernya dari kacang almond, minyak biji rami, minyak ikan, salmon, sarden dan mackerel.

2. Vitamin B
Beberapa kelompok vitamin B memberikan manfaat untuk fungsi otak seperti:
- Vitamin B6 atau Pyridoxine yang penting untuk produksi berbagai neurotransmitter seperti serotonin, dopamin dan melatonin. Studi menunjukkan asupan vitamin ini mampu meningkatkan memori pada orang tua, sumbernya dari biji-bijian, pisang, susu, daging dan sayuran berdaun hijau.
- Vitamin B12 yang memainkan peran kunci dalam fungsi normal otak dan sel saraf serta pembentukkan sel darah merah. Vitamin ini diperoleh dari ikan, telur, susu dan produk susu seperti keju.

3. Antioksidan
Nutrisi ini melindungi sel-sel otak dari proses oksidasi sehingga mampu mencegah penyakit, serta membantu mengembalikan memori dengan meningkatkan keseimbangan motorik dan koordinasi. Sumbernya dari buah jeruk, lemon, anggur, ceri, tomat, sayuran berdaun hijau, teh hijau, biji rami dan almond.

4. Vitamin E
Vitamin ini membantu menjaga sirkulasi darah di otak serta bisa berfungsi sebagai antioksidan yang kuat. Sumbernya dari minyak bunga matahari, minyak gandum, tomat, labu, ubi jalar, mangga, asparagus, brokoli dan pepaya.

Kenapa Ibu Hamil Sangat Sensitif dengan Bau?

Ketika hamil seorang perempuan bisa menjadi sangat sensitif terhadap bau-bau tertentu yang sebelumnya bisa diterima dengan baik. Kenapa bisa begitu?

Seperti halnya beberapa perubahan lain yang terjadi selama hamil, maka ibu hamil biasanya juga mengalami perubahan terhadap indera penciuman yang menjadi lebih sensitif. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatkan kadar hormon estrogen di dalam tubuhnya.

Studi tahun 2002 yang dilakukan oleh Philadelphia's Monell Chemical Senses Center menunjukkan bahwa perempuan dengan kadar hormon estrogen tinggi memiliki sensitivitas yang lebih besar. Kondisi ini juga bisa terjadi pada perempuan saat masa subur, seperti dikutip dari Health.Howstuffworks, Sabtu (2/7/2011).

Para peneliti menuturkan bahwa kepekaan yang lebih tinggi terhadap bau dan rasa yang dialami oleh ibu hamil kadang bisa memicu terjadinya morning sickness, serta ia menjadi lebih selektif dalam memilih.

Meski begitu di lain sisi peneliti beranggapan hal ini bisa jadi menguntungkan karena akan melindungi ibu hamil dari makanan yang mengandung bahan kimia dan racun yang berbahaya bagi janin.

Kondisi ini umumnya terjadi pada awal kehamilan saat tubuh masih harus beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi selama hamil terutama fluktuasi hormon di dalam tubuh. Namun tidak semua ibu hamil memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap bau tertentu.

Sebuah studi menunjukkan beberapa bau dari makanan atau minuman seperti bau kopi, daging, beberapa produk susu dan makanan berbumbu tajam umumnya tidak disukai oleh ibu hamil di masa-masa awal kehamilannya.

Untuk mengatasinya ibu hamil sebaiknya mencoba untuk menghindari aroma yang bisa memperburuk kondisinya, misalnya meminta pasangan untuk tidak menggunakan parfum yang tidak disukai atau menghindari bau makanan tertentu.

Serta bisa juga diatasi dengan membuka jendela agar memberikan ventilasi yang baik sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran udara atau menyium aroma menenangkan seperti mint, lemon atau bau lain yang disukainya.

Saat Hamil Tidurlah dengan Posisi Miring ke Kiri

Posisi tidur ibu hamil kadang bisa mempengaruhi kondisi janin yang dikandungnya. Studi menyarankan ibu hamil untuk tidur miring ke kiri untuk mencegah bayi lahir mati.

Sebuah studi yang dilakukan di Selandia Baru mengungkapkan bahwa posisi tidur ibu hamil yang miring ke kiri pada saat trimester akhir dapat membantu menghindari risiko kelahiran mati (stillbirth).

"Aliran darah ke bayi menjadi terbatas ketika ibu tidur dalam posisi terlentang atau miring ke kanan dalam waktu yang lama. Hal ini kemungkinan yang menjelaskan hubungan tersebut," jelas Tomasina Stacey dari departemen obstetri dan ginekologi University of Auckland.

Menurut peneliti, ibu hamil yang tidur dengan miring ke kiri akan membantu aliran darah ke bayi karena pembuluh darah utama ibu tidak terhalang rahim yang berat.

"Ada banyak faktor yang terkait dengan bayi lahir mati termasuk obesitas, peningkatan usia ibu, etnis, kelainan kongenital dan kondisi plasenta. Sebagian besar tidak terjelaskan," ujar Daghni Rajasingam dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, seperti dilansir Indiavision, Kamis (14/7/2011).

Dalam studi ini tim peneliti mewawancarai 155 perempuan di Auckland yang melahirkan bayi mati antara Juli 2006-Juni 2009 saat usia kehamilan minimal 28 minggu, yang dibandingkan dengan kelompok kontrol dari 310 ibu yang sedang hamil.

"Penelitian skala kecil ini melihat faktor lain yang mungkin terjadi. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum menarik kesimpulan posisi tidur mana yang paling baik. Jika wanita yang sedang hamil merasa khawatir, sebaiknya konsultasikan dengan bidan atau dokter kandungannya," tambah Rajasingam.

Studi ini telah dipublikasikan dalam British Medical Journal.

Ngidam Aneh Ibu Hamil

Ibu hamil sering mengalami ngidam atau keinginan yang tidak tertahankan untuk makan sesuatu misalnya mangga muda. Namun ngidam yang dialami seorang ibu muda di Inggris ini cukup aneh, karena selalu ingin minum cairan pembersih mebel.

Emma Veness, perempuan 26 tahun asal Birmingham mengalami ngidam yang sama sekali tidak wajar yakni ingin minum cairan pembersih mebel atau perabotan. Bukan hanya sekali dua kali, keinginan itu muncul secara rutin sekitar 3 kali dalam sehari.

Lazimnya ibu hamil mulai ngidam pada trimester pertama kehamilan, lalu perlahan mulai berkurang. Namun yang terjadi pada Emma, ngidam itu tidak pernah berkurang hingga saat ini usia kandungannya mencapai 7 bulan dan diperkirakan akan melahirkan pada bulan Oktober.

Beberapa ahli mengatakan, kondisi yang dialami Emma termasuk gangguan pola makan yang disebut Pica. Penderita gangguan ini akan mengalami keinginan untuk mengonsumsi sesuatu yang tidak lazim untuk dimakan misalnya rambut, sabun atau bahkan paku.

Bagi Emma, gangguan Pica ini bukan pertama kalinya terjadi pada dirinya. Sejak kecil, ia sudah menampakkan tanda-tanda Pica karena saat dimandikan oleh ibunya ia mengaku sering curi-curi memakan buih sabun yang masih menempel di tubuhnya sebelum dibilas.

Saat tumbuh dewasa, ia mulai tertarik dengan bau-bau pembersih tangan yang mengandung antibakteri. Meski tidak setiap hari, ia pernah sesekali mencicipi cairan tersebut karena tidak bisa menahan keinginannya untuk mencari tahu seperti apa rasanya.

Bahkan ketika hamil anak pertama, Emma juga mengalami Pica meski tidak separah saat hamil anak keduanya sekarang. Ketika hamil anak pertamanya, Darcie yang kini berusia 11 bulan, Emma sering mengendus-endus lap yang baru saja dipakai untuk membersihkan perabotan.

Kini saat hamil untuk kedua kalinya, Emma benar-benar tidak bisa mengendalikan Pica yang dideritanya. Kali ini ia meminum cairan pembersih mebel yang mengandung pelarut-pelarut berbahaya, langsung dari botolnya seperti orang minum air putih saja.

Sebuah organisasi untuk gangguan pola makan, BEAT menilai kebiasaan Emma bisa membahayakan janin yang dikandungnya. Salah seorang juru bicara BEAT yang tidak disebutkan namanya mengatakan, Emma harus sesegera mungkin menghubungi dokter untuk mengatasinya.

"Cairan pembersih tidak akan memberikan nutrisi apapun, justru akan memberikan dampak jangka panjang yang serius bagi kesehatan. Dan yang terpenting, ibu hamil harus memperbanyak makanan bernutrisi untuk pertumbuhan janin yang dikandungnya," ungkap sang juru bicara seperti dikutip dari Dailymail, Senin (18/7/2011).

Rajin Sarapan Saat Hamil Muda Cenderung Melahirkan Anak Laki

Tidak bisa dipungkiri, banyak pasangan suami istri berharap memiliki setidaknya 1 anak laki-laki dalam keluarganya. Menurut penelitian, ada banyak cara untuk meningkatkan peluang punya anak laki-laki antara lain dengan rajin sarapan.

Penelitian yang dilakukan di University of Missouri menunjukkan, perempuan yang rajin sarapan saat hamil muda lebih berpeluang melahirkan bayi laki-laki. Perbedaannya tidak terlalu besar, hanya sekitar 5 persen namun cukup berarti bagi yang sangat menginginkan anak laki-laki.

Faktor yang membedakan antara perempuan yang rajin sarapan dengan yang sering lupa sarapan adalah asupan kalori. Sang peneliti, Dr Cheryl Rosenfeld menjelaskan bahwa makin tinggi asupan kalori saat hamil muda membuat embrio cenderung tumbuh menjadi laki-laki.

Karena itu selain rajin sarapan, perempuan yang sedang hamil muda juga harus memilih makanan yang tinggi kalori jika ingin punya anak laki-laki. Tentunya harus dibatasi, karena jika kalorinya terlalu tinggi maka akan memicu kegemukan dan berbagai masalah kesehatan.

"Diet tinggi kalori membuat ibu hamil cenderung melahirkan anak laki-laki, sebaliknya dengan diet rendah kalori peluang melahirkan anak perempuan lebih besar," ungkap Dr Rosenfeld dalam laporannya di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, dikutip dari Indiavision, Minggu (24/7/2011).

Menurut Dr Rosenfeld, diet tinggi kalori sebenarnya berperan dalam membentuk daya tahan pada janin saat berada di dalam kandungan. Janin perempuan cederung lebih kuat bertahan meski asupan kalorinya lebih rendah, sementara janin laki-laki lebih banyak yang mati dalam kondisi kekurangan kalori.

Hasil penelitian ini sekaligus menjelaskan kecenderungan di banyak negara, yakni kelahiran bayi laki-laki cenderung menurun dan dikhawatirkan akan memicu ketidakseimbangan gender karena ibu hamil banyak yang tidak sarapan. Dr Rosenfeld menduga, bisa jadi salah satu pemicunya adalah kesibukan manusia moderen yang terlalu tinggi sehingga sering tidak sempat sarapan.

Kenapa Ibu Hamil Tak Boleh Kebanyakan Pakai Listrik?

Perangkat elektronik memang dibuat untuk memudahkan berbagai aktivitas sehari-hari, namun bukan berarti bisa dipakai berlebihan. Bahkan pada ibu hamil disarankan untuk tidak terlalu sering menggunakan peralatan listrik. Kenapa begitu?

Ilmuwan dari Kaiser Permanente Division of Research, Dr De-Kun Li membuktikan menemukan bahwa pengaruh medan elektromagnetik yang ditimbulkan saat dipakai ibu hamil dapat meningkatkan risiko asma pada anak.

Hasil analisis menunjukkan, ibu hamil yang terpapar medan elektromagnetik tinggi 3,5 kali lebih berisiko untuk melahirkan anak dengan asma bawaan dibandingkan ibu hamil dengan paparan elektromagnetik rendah. Pada paparan sedang, risikonya 74 persen lebih tinggi dibandingkan paparan rendah.

Peningkatan risiko melahirkan anak dengan asma bawaan semakin besar jika ibu hamil tersebut juga punya riwayat asma. Ibu hamil yang punya riwayat asma 6 kali lebih berisiko dibandingkan ibu hamil tanpa riwayat asma, meski terpapar medan elektromagnetik dengan intensitas yang sama.

Urutan kelahiran juga mempengaruhi risiko, sebab ternyata anak pertama lebih terpengaruh medan elektromagnetik dibanding anak ke-2 dan seterusnya. Dikutip dari Healthday, Selasa (2/8/2011), anak pertama 40 persen lebih berisiko kena asma jika saat hamil ibunya banyak terpapar medan listrik.

Kabar baiknya, paparan medan elektromagnetik bisa dikurangi dengan cara mengurangi pemakaian perangkat elektronik yang berlebihan dan menjaga jarak dengan perangkat yang sedang bekerja. Semakin jauh jaraknya, semakin kecil medan elektromagnetik yang terpapar ke tubuhnya.

Dr Li mencontohkan, sebuah microwave rata-rata memiliki medan elektromagnetik berkekuatan 200-500 miligauss. Dengan berdiri sejauh 1 hingga 1,5 meter dari alat tersebut, maka kekuatan medan elektromagnetik yang mengenainya berkurang 1-2 miligauss.

Untuk penelitian ini, ilmuwan mengamati 626 ibu hamil di Amerika Serikat. Selama hamil, para partisipan mengenakan alat untuk mengukur paparan medan elektromagnet lalu perkembangan anaknya diamati hingga 13 tahun kemudian.

Dalam pengamatan tersebut, paparan medan elektromagnetik pada ibu hamil dikategorikan tinggi jika melebihi 2 miligauss (satuan untuk mengukur kekuatan magnet). Kurang dari 0,3 miligauss dikategorikan rendah, sedangkan antara 0,3 hingga 2 miligauss dikategorikan sedang.

Karyawan Perempuan yang Sering Masuk Malam Tetap Bisa Hamil

Selama ini, perempuan yang sering bekerja di malam hari diyakini susah hamil. Namun hasil analisis terhadap sejumlah penelitian menunjukkan, hubungan antara kerja malam dengan sistem reproduksi sangat tidak signifikan dan bisa diabaikan.

Anggapan bahwa perempuan yang sering bekerja di malam hari susah hamil didasari oleh perubahan jam biologis. Perempuan yang jam biologisnya tidak teratur akan mengalami perubahan kondisi hormonal yang selama ini diyakini memicu berbagai masalah reproduksi.

Selain menjadi susah hamil, perubahan siklus hormonal itu juga membuat para perempuan sering mengalami menstruasi tidak teratur. Kalaupun bisa hamil, kadang-kadang risikonya tinggi untuk mengalami kelahiran prematur maupun bayi lahir dengan berat badan rendah.

Namun anggapan ini terbantahkan oleh hasil analisis yang dilakukan Dr Matteo Bonzini dari University of Insubria di Italia, terhadap 23 penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Jumlah partisipan yang terlibat di masing-masing penelitian cukup beragam, mulai dari 700 hingga 35.000 orang.

Dari sekian banyak penelitian yang dianalisis, sebagian memang menunjukkan adanya hubungan antara masuk malam dengan ketidakseimbangan hormonal. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap para perawat di sejumlah rumah sakit.

Dibandingkan para perempuan dengan profesi lainnya, perawat yang sering piket malam di rumah sakit lebih sering mengalami menstruasi yang tidak teratur. Meski diyakini bahwa kecenderungan ini mempengaruhi kesuburan, namun tidak ada cukup bukti untuk disimpulkan demikian.

Secara keseluruhan, 23 penelitian itu rata-rata menunjukkan bahwa perempuan yang sering bekerja di malam hari punya risiko 16 persen lebih besar untuk bermasalah dengan sistem reproduksi. Dilihat dari angkanya, risiko ini memang cukup signifikan.

Namun Dr Bonzini mengatakan, beberapa faktor lain membuat angka itu menjadi tidak signifikan karena masalah reproduksi tidak secara langsung dipicu oleh kebiasaan bekerja di malam hari. Faktor-faktor lain yang dimaksud antara lain faktor sosial, ekonomi dan gaya hidup.

Menurut Dr Bonzini, perempuan yang sering masuk malam biasanya berpenghasilan relatif rendah sehingga sulit mengakses layanan kesehatan. Selain itu, agar tidak mengantuk beberapa perempuan pekerja malam sering mengonsumsi kopi dan rokok yang akan mempengaruhi kesehatannya.

"Bukti-bukti yang ada saat ini tidak mengharuskan perusahaan untuk membatasi para perempuan untuk bekerja di malam hari, dalam kaitannya dengan peluang untuk memiliki keturunan," ungkap Dr Bonzini seperti dikutip dari Reuters, Senin (22/8/2011).

Banyak Ibu Minta Caesar dengan Usia Hamil yang Belum Penuh

Operasi caesar memang menjadi pilihan para ibu yang ingin melahirkan dengan lebih aman, meskipun hal ini menyebabkan biaya persalinan menjadi jauh lebih mahal. Namun, terkadang caesar dilakukan karena orang tua bayi memilihkan tanggal tertentu untuk kelahiran sang buah hati.

Tren melahirkan sebelum waktunya ini membuat The March of Dimes prihatin. Untuk menekan angka kematian bayi akibat kelahiran yang terlalu awal dengan cara induksi atau caesar mereka melakukan kampanye dengan slogan 'Bayi sehat patut ditunggu'.

The March of Dimes mencatat maraknya tren melahirkan dengan cara caesar sebelum usia kehamilan 39 minggu seperti dilansir dari The New York Times, Senin (22/8/2011). Peningkatan angka kelahiran caesar di Amerika banyak terjadi sebelum usia kehamilan 39 minggu.

Penelitian telah menunjukkan bahwa sebanyak 36 persen operasi caesar terjadi sebelum usia kandungan 39 minggu. Padahal melahirkan dengan usia kehamilan yang kurang dapat menyebabkan kelahiran prematur dan menimbulkan berbagai komplikasi yang menyebabkan biaya perawatan mahal.

Meskipun pedoman yang diterbitkan 12 tahun lalu oleh American College of Obstetricians and Gynecologists memperingatkan kelahiran bayi dengan induksi atau caesar sebelum usia 39 minggu tidak baik, namun mayoritas ibu dan banyak dokter percaya bahwa bayi akan aman meskipun kelahiran terjadi di minggu sebelumnya .

Fakta medis menunjukkan bahwa pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan di bawah 39-40 minggu, punya risiko komplikasi seperti gangguan pernapasan, sakit kuning, infeksi, gula darah rendah, hari perawatan pasca melahirkan di rumah sakit lebih panjang dan bahkan kematian bayi baru lahir.

Meskipun banyak ibu berpikir bahwa berat badan bayi sudah mencukupi pada beberapa minggu terakhir kehamilan, Dr Hawa Lackritz dari maternal and infant health of the national Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta mengatakan, organ vital seperti otak, paru-paru dan hati masih dalam perkembangan.

"Bayi tidak sepenuhnya berkembang sampai 39 minggu. Sebagai contoh, otak bayi di usia kehamilan 35 minggu beratnya hanya dua pertiga dari berat bayi pada 39-40 minggu," kata Dr Lackritz.

Seringkali wanita keliru tentang kapan mulai hamil, sehingga dapat mengacaukan perhitungan tanggal perkiraan lahir bayi. Kehamilan dihitung dari hari pertama periode terakhir menstruasi wanita.

Seorang ibu mungkin berpikir kehamilannya telah berlangsung selama 39 minggu padahal ketika itu baru 37 minggu usia kehamilannya. Seringnya salah perhitungan mengenai usia kehamilan ini menyebabkan kelahiran bayi yang terlalu awal.

Untuk mengatasi komplikasi dan menghindari biaya yang lebih tinggi terkait dengan kelahiran bayi prematur, pada Januari 2001 sembilan rumah sakit kota di Utah mempunyai sebuah program untuk pembatasan kelahiran bayi sebelum usia 39 minggu. Program ini mencakup program pendidikan untuk dokter, perawat dan wanita hamil.

Mual Muntah yang Parah Saat Hamil Pertanda Anak Mudah Stres

Morning sickness atau mual muntah di pagi hari adalah gejala yang wajar saat hamil muda. Namun jika intensitasnya sangat parah, gejala itu bisa menandakan bahwa anaknya akan lebih berisiko mengalami stres dan depresi saat tumbuh dewasa.

Dalam istilah medis, mual muntah yang sangat para selama hamil muda disebut Hyperemesis Gravidarum (HG). Selain muncul terlalu sering, gangguan ini saking parahnya juga bisa menyebabkan dehidrasi (kehilangan cairan) dan malnutrisi (kurang gizi).

Menurut penelitian terbaru di University of Southern California, ibu hamil yang mengalami HG lebih berisiko melahirkan anak yang rentan depresi saat tumbuh dewasa. Risikonya 4 kali lebih tinggi dibanding ibu hamil yang mual muntahnya masih terhitung wajar.

"Meski HG sudah sering dihubungkan dengan dehidrasi dan malnutrisi, penelitian ini adalah yang pertama mengungkap hubungannya dengan risiko depresi," ungkap Dr Marlena Feljo yang memimpin penelitian tersebut, seperti dikutip dari Irishhealth, Kamis (25/8/2011).

Penelitian tersebut dilakukan terhadap ratusan perempuan di seluruh Amerika Serikat yang ibunya mengalami HG saat mengandung. Sebagai pembanding, para peneliti juga mengamati sejumlah perempuan yang ibunya tidak mengalami HG ketika hamil muda.

Hasilnya, 16 persen partisipan yang ibunya mengalami HG punya riwayat depresi ketika sudah dewasa sementara pada partisipan yang ibunya tidak mengalami HG angkanya hanya 3 persen. Gangguan suasana hati atau bipolar dialami 8 pesen partisipan yang ibunya mengalami HG dan hanya 2 persen dari partisipan dari kelompok pembanding.

Partisipan yang ibunya mengalami HG ketika hamil muda juga lebih mudah merasa gelisah. Kegelisahan dialami oleh 7 persen partisipan yang ibunya mengalami HG sedangkan pada partisipan pembanding angkanya sekitar hanya 2 persen.

Perubahan Pada Kulit Selama Kehamilan

Saat hamil seseorang pasti mengalami perubahan di dalam tubuhnya, termasuk pada kulit. Perubahan apa saja yang terjadi pada kulit ibu hamil?

Ibu hamil mengalami fluktuasi hormon yang bisa mempengaruhi penampilan seseorang termasuk pada kulit dan umumnya akan hilang setelah bayi yang dikandung lahir. Meski pada beberapa kasus perubahan kulit tersebut masih terjadi.

Berikut ini perubahan kulit yang terjadi ketika seseorang sedang hamil, seperti dikutip dari Lifemojo, Jumat (26/8/2011) yaitu:

1. Bercak-bercak pada kulit wajah
Produksi hormon yang berlebihan akan mengakibatkan pigmentasi meningkat yang memicu munculnya titik-titik atau bercak coklat di kulit wajah terutama pada dahi, bercak ini dikenal sebagai melasma dan chlosma. Salah satu cara mencegahnya adalah menghindari sinar matahari yang berlebihan.

2. Jerawat
Jika diketahui memiliki kulit yang rentan jerawat, maka perlu penanganan ekstra selama hamil. Kelebihan hormon akan mengaktifkan kelenjar untuk menghasilkan minyak lebih banyak sehingga memicu munculnya jerawat. Untuk itu rajin-rajinlah mencuci muka dan menjaga kulit agar tetap bersih.

3. Pembuluh darah menonjol
Saat hamil pembuluh darah kecil akan lebih menonjol di sekitar daerah wajah dan dada bagian atas, tapi akan hilang setelah kehamilan selesai atau disebut dengan spider veins.

4. Linea nigra
Selama bulan keempat atau kelima kehamilan, maka akan muncul garis gelap dari pusar menuju tulang kemaluan, kondisi ini disebut dengan linea nigra. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, dan tidak ada yang perlu dilakukan untuk mencegahnya.

5. Stretch marks
Ini adalah sesuatu yang kebanyakan perempuan tidak bisa hindari selama hamil. Umumnya akan terlihat jelas garis-garis kemerahan di perut. Para ahli merekomendasikan untuk melakukan latihan dan menggunakan lotion khusus.

6. Pregnancy glow
Hal ini terjadi karena sirkulasi darah meningkat dalam tubuh sehingga berdampak pada kulit wajah menjadi lebih bercahaya (glow).

7. Kulit gatal
Kondisi ini biasanya terbatas pada daerah perut, karena perut jadi lebih kencang dan meregang seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Pada kondisi tertentu gatal bisa menyebar ke daerah lengan dan kaki atau dikenal sebagai pruritic urticarial papules.

8. Varises
Saat hamil akan muncul urat biru (varises) di kaki yang terjadi karena tubuh menyesuaikan diri dalam membawa lebih banyak aliran darah untuk bayi. Intensitas nyeri yang muncul bisa dikurangi dengan tidak berdiri dalam jangka waktu lama, berjalan sebanyak mungkin dan menggunakan stocking.

Alasan Dukun Beranak Lebih Disukai Ketimbang Bidan

Profesi dukun beranak masih punya tempat istimewa di banyak masyarakat Indonesia terutama di pedesaan. Meski sudah ada bidan, penduduk desa lebih suka melahirkan ke dukun beranak. Apa alasannya?

Dukun adalah seorang perempuan yang diakui oleh masyarakat dalam mendampingi ibu hamil, pertolongan persalinan serta perawatan bayi baru lahir secara spiritual.

Umumnya masih banyak masyarakat yang mempercayakan dukun untuk membantu proses persalinannya. Hal itu diakui Bidan Yulia yang bekerja di Poskesdes Mangka, Puskesmas Bakam, Sungailiat Bangka. Menurutnya dibutuhkan sosialisasi yang terus menerus agar bidan bisa diterima warga.

Bidan Yulia menuturkan ada beberapa faktor yang membuat masyarakat masih percaya dukun yaitu:
1. Mitos kepercayaan pada dukun masih kuat, masyarakat beranggapan kalau bidan itu selesai pendidikan,ia masih muda dan belum ada pengalamannya.
2. Mitos yang ada dimasyarakat adalah kalau dibantu oleh bidan pasti dijahit, sementara masyarakat takut dengan jahitan.
3. Turunan dalam keluarga yang menggunakan dukun untuk membantu melahirkan.
4. Masalah biaya, umumnya dukun tidak menarik pungutan jadi secara sukarela saja, sedangkan bidan ada tarifnya.
5. Dukun juga biasanya memberikan ramuan-ramuan yang dipercaya bisa mempermudah persalinan dan diurut yang sangat dipercaya masyarakat.

"Rata-rata 1 desa minimal ada 1 dukun, tapi kadang ada yang 2 atau 3 dukun," ujar Bidan Yulia disela-sela acara pertemuan dengan nakes teladan di Hotel Santika, Bangka, Senin (19/9/2011).

Karenanya diperlukan sosialisasi secara terus menerus bahwa ada subsidi yang bisa diberikan jika ibu hamil mau melahirkan dibantu oleh tenaga kesehatan.

Untuk meningkatkan jumlah ibu yang melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan, Bidan Yulia pun mulai melakukan pendekatan dengan para dukun pada tahun 2008. Saat itu ia meminta para dukun untuk mengikutsertakan dirinya jika ada ibu yang melahirkan.

"Saya bilang dengan dukun 'tolong ya ajak saya kalau ada pasien melahirkan' meskipun saat itu saya hanya sebagai cadangan saja," ujar bidan yang lahir di Tempilang, Bangka Barat 3 Desember 1979.

Setelah berhasil mendekati dukun, maka tahun 2009 terbentuk kemitraan antara bidan dan dukun melalui pernyataan di atas materai, termasuk pembagian pembayaran seperti bidan tidak mengurangi pendapatan dukun.

Selain itu ada pula kelas ibu yang berisi penyuluhan mengenai segala hal tentang kehamilan, dan berusaha pula melibatkan para suami. Sehingga saat ini kesadaran masyarakat semakin tinggi dan tidak perlu lagi susah payah merujuk pasien, karena mereka dengan sendirinya sudah datang ke poskosdes.

"Alhamdulilah di desa saya saat ini sudah tidak ada ibu yang meninggal saat melahirkan, sedangkan kematian bayi terakhir terjadi pada tahun 2009," ungkap Yulia yang hampir 12 tahun menjadi bidan.

Ekspresi Janin Bisa Jadi Indikator Fungsi Otak

Terkadang janin menunjukkan ekspresi wajah tertentu saat diperiksa melalui USG (ultrasonografi). Tapi ternyata ekspresi yang ditunjukkan janin bisa menjadi indikator fungsi otaknya.

Studi yang dipimpin oleh peneliti Inggris Dr Nadja Reissland menuturkan bahwa ekspresi wajah seperti tertawa dan menangis berkembang sebelum kelahiran dan menjadi lebih kompleks sampai mencapai usia kehamilan 36 minggu.

Perkembangan gerakan wajah pada janin adalah hal penting untuk mengetahui berbagai fungsi setelah kelahiran, seperti gerakan mengisap bayi saat makan, rahang dan lidah yang diperlukan untuk berbicara serta diperlukan untuk meningkatkan ikatan bayi dan orangtua setelah kelahiran.

Otot-otot wajah mulai berkembang saat usia kehamilan 8 minggu, dan semua otot yang digunakan dalam ekspresi wajah dibentuk pada usia 16 minggu. Kemungkinan ekspresi wajah pada janin antara 24-36 minggu dibentuk dari jaringan adiposa yang terbangun selama periode tersebut.

Peneliti mempelajari ekspresi wajah janin dengan menerapkan Facial Action Coding System (FACS) pada USG 4D. Seiring meningkatnya usia kehamilan, maka gerakan wajah, tungkai dan tubuh janin semakin berkorelasi dengan perkembangan struktural dari sistem saraf pusat.

Perkembangan ini menunjukkan adanya hubungan antara korteks serebral dan perifer struktur janin yang fungsional. Karenanya ekspresi janin mungkin bisa memprediksi fungsi otak janin yang sehat.

"Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa ada potensi besar dari metode ini untuk menilai perkembangan janin," ujar Dr Nadja Reissland dari Durham University, seperti dikutip dari MedIndia, Sabtu (24/9/2011).

Dr Reissland menuturkan kode dan analisis ini memungkinkan bagi peneliti untuk secara obyektif melacak peningkatan kompleksitas dari waktu ke waktu dalam menghasilkan ekspresi wajah yang dikenali.

Metode pengkodean dari gerakan wajah janin ini bermanfaat untuk:


  1. Penanda untuk mengetahui perkembangan normal
  2. Memiliki potensi besar untuk menilai integritas sistem saraf pusat dari janin
  3. Digunakan untuk mendeteksi gangguan otak fungsional atau struktural
  4. Membedakan antara perkembangan wajah janin yang normal dan abnormal untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dalam rahim.

Hindari Kesalahan Ini Jika Ingin Cepat Hamil

Tidak ada orang yang bisa memprediksi dengan pasti kapan perempuan akan hamil. Meski begitu ada beberapa kesalahan yang kerap dilakukan pasangan sehingga mengurangi kemungkinannya untuk hamil.

Ada berbagai alasan yang membuat seseorang sulit untuk hamil selain akibat masalah medis tertentu yang serius. Beberapa cara dilakukan seperti ada yang mencoba konsumsi obat atau teknik tertentu. Tapi kadang pasangan mengabaikan beberapa kesalahan yang umum.

Untuk itu hindari kesalahan-kesalahan berikut ini jika ingin cepat hamil, seperti dikutip dari Buzzle, Selasa (4/10/2011) yaitu:

1. Tidak menempatkan prioritas dengan tepat
Tidak salah jika orang menempatkan urutan kebutuhan untuk membeli rumah, tabungan dan lainnya terlebih dahulu sebelum merencanakan memiliki anak. Tapi ada hal penting yang harus dipahami, yaitu kondisi tubuh. Semakin lama memperlambat maka semakin kecil kemungkinan untuk hamil karena kualitas dan jumlah sel telur semakin berkurang.

2. Melakukan hubungan seks setiap hari
Banyak pasangan yang tidak tahu bahwa hubungan seks setiap hari bisa mengurangi jumlah sperma dan butuh waktu tertentu agar kembali normal. Jadi berhubungan seks setiap hari bukan meningkatkan peluang hamil tapi justru menguranginya.

3. Kesalahan dalam menghitung waktu ovulasi (masa subur)
Kebanyakan perempuan beranggapan masa ovulasinya adalah hari ke-14 sejak hari pertama menstruasi, padahal waktu ovulasi sangat bervariasi tiap orang ada yang lebih cepat atau justru lebih lambat. Jika menstruasinya teratur, maka akan lebih mudah menghitung waktu suburnya.

4. Kesalahan gaya hidup yang mempengaruhi kesuburan
Gaya hidup tertentu sangat mempengaruhi kesuburan seperti merokok, diet yang tidak seimbang atau tidak sehat atau berat badan berlebih yang bisa menghambat kehamilan.

5. Terlalu memikirkan posisi saat bercinta
Beberapa pasangan masih berpikir posisi saat bercinta pengaruhi kesempatan untuk hamil, padahal posisi tidak memainkan peran apapun, karenanya jangan terlalu stres atau mencoba gerakan-gerakan yang justru bisa membahayakan alat kelamin.

6. Stres memikirkan kehamilan
Stres yang terjadi sebelum, selama atau setelah kehamilan adalah hal yang tidak sehat, karena bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi hormon kehamilan HCG. Untuk itu usahakan tetap rileks dan santai agar kesempatan hamilnya lebih ebsar.

7. Terlalu lama menunggu untuk pergi ke dokter spesialis
Sebaiknya jangan terlalu lama menunggu untuk pergi ke dokter spesialis, jika sudah melewati waktu 1 tahun dan belum juga hamil tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter. Tapi jika ada keluhan lain seperti menstruasi yang sakit, pernah memiliki infeksi panggul atau keputihan yang parah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter lebih cepat.

Anak Kurus Karena Ada Gen Kurus yang Diturunkan Orangtua

Selama ini masyarakat hanya tahu tubuh gemuk yang turunkan dari orangtua. Ternyata orangtua yang memiliki tubuh kurus juga memberikan kesempatan lebih besar bagi anaknya untuk bertubuh kurus.

Peneliti mengklaim menjadi kurus adalah sesuatu yang turunkan dari keluarga. Anak-anak yang memiliki orangtua bertubuh kurus akan sangat mungkin untuk memiliki tubuh kurus karena adanya 'gen kurus' yang diturunkan.

Sebuah studi menemukan anak-anak dengan orangtua kurus akan 3 kali lebih mungkin memiliki tubuh kurus daripada anak-anak yang memiliki orangtua dengan kelebihan berat badan. Ilmuwan dari University College London menuturkan faktor-faktor genetik membantu orang untuk lebih mudah bertubuh kurus.

Untuk mengetahui seseorang tergolong bertubuh kurus atau gemuk biasanya dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT/BMI) berdasarkan tinggi dan berat badan yang dimiliki. IMT yang sehat jika nilainya antara 18,5-24,9, IMT yang tergolong kelebihan berat badan antara 25-29,9 dan obesitas jika nilai IMT nya lebih dari 30.

Studi menemukan kesempatan seorang anak untuk menjadi kurus sebesar 16,2 persen jika orangtuanya memiliki nilai IMT ideal atau kurus, jika orangtuanya kelebihan berat badan maka kemungkinan bertubuh kurus sebesar 5,3 persen, tapi jika orangtuanya obesitas maka kemungkinan bertubuh kurus hanya 2,5 persen.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine ini menemukan tidak adanya perbedaan jenis kelamin yang berarti tidak ada pengaruh apakah ibu atau ayahnya yang kurus.

"Kita tahu bahwa berat badan anak berhubungan dengan orangtuanya, tapi studi sebelumnya cenderung lebih fokus pada obesitas sehingga ini menjadi studi pertama yang menganalisis adanya gen kurus yang bisa diturunkan ke anak," ujar Dr Katriina Whitaker dari departemen epidemiologi dan kesehatan masyarakat University College London, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (5/10/2011).

Sementara itu Profesor Jane Wardle menuturkan kadang orangtua sering khawatir jika anaknya bertubuh kurus, padahal bisa jadi kondisi ini karena adanya gen kurus yang diturunkan dari orangtua.

"Semua gen memiliki 2 versi atau alel dan orangtuanya yang kurus memiliki alel kurus yang mungkin bisa diturunkan ke anaknya. Seorang anak yang mewarisi alel kurus lebih banyak dari orangtuanya maka secara alami ia akan memiliki tubuh kurus," ujar Profesor Wardle.