Gaya hidup moderen yang serba sibuk membuat banyak pasangan menunda
punya anak. Namun jika ditunda terlalu lama, kelak anaknya akan
terbebani berbagai masalah kesehatan serta tanggung jawab untuk merawat
orangtua yang mulai jompo.
Seorang dokter kandungan dari King Edward Memorial Hospital
(KEMH) di Perth Australia, Dr Barry Walters bahkan mengatakan bahwa
kecenderungan menunda kehamilan adalah sikap yang egois. Apapun
alasannya, punya anak di usia terlalu tua hanya menguntungkan pasangan
itu sendiri.
Pada perempuan khususnya, makin tua usia saat hamil
maka risikonya makin tinggi. Baik perempuannya itu sendiri maupun janin
yang dikandungnya akan lebih rentan mengalami berbagai masalah mulai
dari kelebihan gula darah, hingga tekanan darah tinggi.
"Makin
tua usia perempuan saat hamil, makin besar kemungkinan untuk menghadapi
berbagai masalah medis," ungkap Dr Walters seperti dikutip dari Ninemsn, Rabu (5/10/2011).
Komentar
ini disampaikan Dr Walters mengingat belakangan ini makin banyak
perempuan dan pasangan subur pada umumnya yang menunda kehamilan. Bukan
hanya faktor usia, kadang-kadang pasangan tersebut tidak memperhitungkan
faktor lain yang mengganggu kehamilan termasuk kegemukan.
Dr
Walter menyarankan, para perempuan sebaiknya mulai membatasi kehamilan
sejak usia 37 tahun. Kalaupun masih ingin hamil di usia lebih tua dari
itu, maka harus didahului dengan pemeriksaan medis dan program diet
untuk mengendalikan berat badan.
Sebagai dokter kandungan, ia
juga kurang mendukung adanya program bayi tabung yang memungkinkan para
perempuan bisa hamil di usia berapapun selama masih memiliki sel telur.
Menurutnya teknologi ini hanya semakin meningkatkan kecenderungan untuk
menunda punya anak.
Selain masalah medis, Dr Walters juga
memperingatkan risiko lain yang harus ditanggung oleh anak akibat
keputusan orangtuanya untuk menunda kehamilan. Saat tumbuh dewasa,
anak-anak tersebut menanggung beban lebih berat dibanding teman
sebayanya karena harus mengurus orangtuanya yang sudah jompo.
Tampilkan postingan dengan label Kehamilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehamilan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Oktober 2011
Kenapa Ibu Hamil Sangat Sensitif dengan Bau?
Ketika hamil seorang perempuan bisa menjadi sangat sensitif terhadap
bau-bau tertentu yang sebelumnya bisa diterima dengan baik. Kenapa bisa
begitu?
Seperti halnya beberapa perubahan lain yang terjadi selama hamil, maka ibu hamil biasanya juga mengalami perubahan terhadap indera penciuman yang menjadi lebih sensitif. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatkan kadar hormon estrogen di dalam tubuhnya.
Studi tahun 2002 yang dilakukan oleh Philadelphia's Monell Chemical Senses Center menunjukkan bahwa perempuan dengan kadar hormon estrogen tinggi memiliki sensitivitas yang lebih besar. Kondisi ini juga bisa terjadi pada perempuan saat masa subur, seperti dikutip dari Health.Howstuffworks, Sabtu (2/7/2011).
Para peneliti menuturkan bahwa kepekaan yang lebih tinggi terhadap bau dan rasa yang dialami oleh ibu hamil kadang bisa memicu terjadinya morning sickness, serta ia menjadi lebih selektif dalam memilih.
Meski begitu di lain sisi peneliti beranggapan hal ini bisa jadi menguntungkan karena akan melindungi ibu hamil dari makanan yang mengandung bahan kimia dan racun yang berbahaya bagi janin.
Kondisi ini umumnya terjadi pada awal kehamilan saat tubuh masih harus beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi selama hamil terutama fluktuasi hormon di dalam tubuh. Namun tidak semua ibu hamil memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap bau tertentu.
Sebuah studi menunjukkan beberapa bau dari makanan atau minuman seperti bau kopi, daging, beberapa produk susu dan makanan berbumbu tajam umumnya tidak disukai oleh ibu hamil di masa-masa awal kehamilannya.
Untuk mengatasinya ibu hamil sebaiknya mencoba untuk menghindari aroma yang bisa memperburuk kondisinya, misalnya meminta pasangan untuk tidak menggunakan parfum yang tidak disukai atau menghindari bau makanan tertentu.
Serta bisa juga diatasi dengan membuka jendela agar memberikan ventilasi yang baik sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran udara atau menyium aroma menenangkan seperti mint, lemon atau bau lain yang disukainya.
Seperti halnya beberapa perubahan lain yang terjadi selama hamil, maka ibu hamil biasanya juga mengalami perubahan terhadap indera penciuman yang menjadi lebih sensitif. Kondisi ini disebabkan oleh meningkatkan kadar hormon estrogen di dalam tubuhnya.
Studi tahun 2002 yang dilakukan oleh Philadelphia's Monell Chemical Senses Center menunjukkan bahwa perempuan dengan kadar hormon estrogen tinggi memiliki sensitivitas yang lebih besar. Kondisi ini juga bisa terjadi pada perempuan saat masa subur, seperti dikutip dari Health.Howstuffworks, Sabtu (2/7/2011).
Para peneliti menuturkan bahwa kepekaan yang lebih tinggi terhadap bau dan rasa yang dialami oleh ibu hamil kadang bisa memicu terjadinya morning sickness, serta ia menjadi lebih selektif dalam memilih.
Meski begitu di lain sisi peneliti beranggapan hal ini bisa jadi menguntungkan karena akan melindungi ibu hamil dari makanan yang mengandung bahan kimia dan racun yang berbahaya bagi janin.
Kondisi ini umumnya terjadi pada awal kehamilan saat tubuh masih harus beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi selama hamil terutama fluktuasi hormon di dalam tubuh. Namun tidak semua ibu hamil memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap bau tertentu.
Sebuah studi menunjukkan beberapa bau dari makanan atau minuman seperti bau kopi, daging, beberapa produk susu dan makanan berbumbu tajam umumnya tidak disukai oleh ibu hamil di masa-masa awal kehamilannya.
Untuk mengatasinya ibu hamil sebaiknya mencoba untuk menghindari aroma yang bisa memperburuk kondisinya, misalnya meminta pasangan untuk tidak menggunakan parfum yang tidak disukai atau menghindari bau makanan tertentu.
Serta bisa juga diatasi dengan membuka jendela agar memberikan ventilasi yang baik sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran udara atau menyium aroma menenangkan seperti mint, lemon atau bau lain yang disukainya.
Saat Hamil Tidurlah dengan Posisi Miring ke Kiri
Posisi tidur ibu hamil kadang bisa mempengaruhi kondisi janin yang
dikandungnya. Studi menyarankan ibu hamil untuk tidur miring ke kiri
untuk mencegah bayi lahir mati.
Sebuah studi yang dilakukan di Selandia Baru mengungkapkan bahwa posisi tidur ibu hamil yang miring ke kiri pada saat trimester akhir dapat membantu menghindari risiko kelahiran mati (stillbirth).
"Aliran darah ke bayi menjadi terbatas ketika ibu tidur dalam posisi terlentang atau miring ke kanan dalam waktu yang lama. Hal ini kemungkinan yang menjelaskan hubungan tersebut," jelas Tomasina Stacey dari departemen obstetri dan ginekologi University of Auckland.
Menurut peneliti, ibu hamil yang tidur dengan miring ke kiri akan membantu aliran darah ke bayi karena pembuluh darah utama ibu tidak terhalang rahim yang berat.
"Ada banyak faktor yang terkait dengan bayi lahir mati termasuk obesitas, peningkatan usia ibu, etnis, kelainan kongenital dan kondisi plasenta. Sebagian besar tidak terjelaskan," ujar Daghni Rajasingam dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, seperti dilansir Indiavision, Kamis (14/7/2011).
Dalam studi ini tim peneliti mewawancarai 155 perempuan di Auckland yang melahirkan bayi mati antara Juli 2006-Juni 2009 saat usia kehamilan minimal 28 minggu, yang dibandingkan dengan kelompok kontrol dari 310 ibu yang sedang hamil.
"Penelitian skala kecil ini melihat faktor lain yang mungkin terjadi. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum menarik kesimpulan posisi tidur mana yang paling baik. Jika wanita yang sedang hamil merasa khawatir, sebaiknya konsultasikan dengan bidan atau dokter kandungannya," tambah Rajasingam.
Studi ini telah dipublikasikan dalam British Medical Journal.
Sebuah studi yang dilakukan di Selandia Baru mengungkapkan bahwa posisi tidur ibu hamil yang miring ke kiri pada saat trimester akhir dapat membantu menghindari risiko kelahiran mati (stillbirth).
"Aliran darah ke bayi menjadi terbatas ketika ibu tidur dalam posisi terlentang atau miring ke kanan dalam waktu yang lama. Hal ini kemungkinan yang menjelaskan hubungan tersebut," jelas Tomasina Stacey dari departemen obstetri dan ginekologi University of Auckland.
Menurut peneliti, ibu hamil yang tidur dengan miring ke kiri akan membantu aliran darah ke bayi karena pembuluh darah utama ibu tidak terhalang rahim yang berat.
"Ada banyak faktor yang terkait dengan bayi lahir mati termasuk obesitas, peningkatan usia ibu, etnis, kelainan kongenital dan kondisi plasenta. Sebagian besar tidak terjelaskan," ujar Daghni Rajasingam dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists, seperti dilansir Indiavision, Kamis (14/7/2011).
Dalam studi ini tim peneliti mewawancarai 155 perempuan di Auckland yang melahirkan bayi mati antara Juli 2006-Juni 2009 saat usia kehamilan minimal 28 minggu, yang dibandingkan dengan kelompok kontrol dari 310 ibu yang sedang hamil.
"Penelitian skala kecil ini melihat faktor lain yang mungkin terjadi. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum menarik kesimpulan posisi tidur mana yang paling baik. Jika wanita yang sedang hamil merasa khawatir, sebaiknya konsultasikan dengan bidan atau dokter kandungannya," tambah Rajasingam.
Studi ini telah dipublikasikan dalam British Medical Journal.
Ngidam Aneh Ibu Hamil
Ibu hamil sering mengalami ngidam atau keinginan yang tidak tertahankan
untuk makan sesuatu misalnya mangga muda. Namun ngidam yang dialami
seorang ibu muda di Inggris ini cukup aneh, karena selalu ingin minum
cairan pembersih mebel.
Emma Veness, perempuan 26 tahun asal Birmingham mengalami ngidam yang sama sekali tidak wajar yakni ingin minum cairan pembersih mebel atau perabotan. Bukan hanya sekali dua kali, keinginan itu muncul secara rutin sekitar 3 kali dalam sehari.
Lazimnya ibu hamil mulai ngidam pada trimester pertama kehamilan, lalu perlahan mulai berkurang. Namun yang terjadi pada Emma, ngidam itu tidak pernah berkurang hingga saat ini usia kandungannya mencapai 7 bulan dan diperkirakan akan melahirkan pada bulan Oktober.
Beberapa ahli mengatakan, kondisi yang dialami Emma termasuk gangguan pola makan yang disebut Pica. Penderita gangguan ini akan mengalami keinginan untuk mengonsumsi sesuatu yang tidak lazim untuk dimakan misalnya rambut, sabun atau bahkan paku.
Bagi Emma, gangguan Pica ini bukan pertama kalinya terjadi pada dirinya. Sejak kecil, ia sudah menampakkan tanda-tanda Pica karena saat dimandikan oleh ibunya ia mengaku sering curi-curi memakan buih sabun yang masih menempel di tubuhnya sebelum dibilas.
Saat tumbuh dewasa, ia mulai tertarik dengan bau-bau pembersih tangan yang mengandung antibakteri. Meski tidak setiap hari, ia pernah sesekali mencicipi cairan tersebut karena tidak bisa menahan keinginannya untuk mencari tahu seperti apa rasanya.
Bahkan ketika hamil anak pertama, Emma juga mengalami Pica meski tidak separah saat hamil anak keduanya sekarang. Ketika hamil anak pertamanya, Darcie yang kini berusia 11 bulan, Emma sering mengendus-endus lap yang baru saja dipakai untuk membersihkan perabotan.
Kini saat hamil untuk kedua kalinya, Emma benar-benar tidak bisa mengendalikan Pica yang dideritanya. Kali ini ia meminum cairan pembersih mebel yang mengandung pelarut-pelarut berbahaya, langsung dari botolnya seperti orang minum air putih saja.
Sebuah organisasi untuk gangguan pola makan, BEAT menilai kebiasaan Emma bisa membahayakan janin yang dikandungnya. Salah seorang juru bicara BEAT yang tidak disebutkan namanya mengatakan, Emma harus sesegera mungkin menghubungi dokter untuk mengatasinya.
"Cairan pembersih tidak akan memberikan nutrisi apapun, justru akan memberikan dampak jangka panjang yang serius bagi kesehatan. Dan yang terpenting, ibu hamil harus memperbanyak makanan bernutrisi untuk pertumbuhan janin yang dikandungnya," ungkap sang juru bicara seperti dikutip dari Dailymail, Senin (18/7/2011).
Emma Veness, perempuan 26 tahun asal Birmingham mengalami ngidam yang sama sekali tidak wajar yakni ingin minum cairan pembersih mebel atau perabotan. Bukan hanya sekali dua kali, keinginan itu muncul secara rutin sekitar 3 kali dalam sehari.
Lazimnya ibu hamil mulai ngidam pada trimester pertama kehamilan, lalu perlahan mulai berkurang. Namun yang terjadi pada Emma, ngidam itu tidak pernah berkurang hingga saat ini usia kandungannya mencapai 7 bulan dan diperkirakan akan melahirkan pada bulan Oktober.
Beberapa ahli mengatakan, kondisi yang dialami Emma termasuk gangguan pola makan yang disebut Pica. Penderita gangguan ini akan mengalami keinginan untuk mengonsumsi sesuatu yang tidak lazim untuk dimakan misalnya rambut, sabun atau bahkan paku.
Bagi Emma, gangguan Pica ini bukan pertama kalinya terjadi pada dirinya. Sejak kecil, ia sudah menampakkan tanda-tanda Pica karena saat dimandikan oleh ibunya ia mengaku sering curi-curi memakan buih sabun yang masih menempel di tubuhnya sebelum dibilas.
Saat tumbuh dewasa, ia mulai tertarik dengan bau-bau pembersih tangan yang mengandung antibakteri. Meski tidak setiap hari, ia pernah sesekali mencicipi cairan tersebut karena tidak bisa menahan keinginannya untuk mencari tahu seperti apa rasanya.
Bahkan ketika hamil anak pertama, Emma juga mengalami Pica meski tidak separah saat hamil anak keduanya sekarang. Ketika hamil anak pertamanya, Darcie yang kini berusia 11 bulan, Emma sering mengendus-endus lap yang baru saja dipakai untuk membersihkan perabotan.
Kini saat hamil untuk kedua kalinya, Emma benar-benar tidak bisa mengendalikan Pica yang dideritanya. Kali ini ia meminum cairan pembersih mebel yang mengandung pelarut-pelarut berbahaya, langsung dari botolnya seperti orang minum air putih saja.
Sebuah organisasi untuk gangguan pola makan, BEAT menilai kebiasaan Emma bisa membahayakan janin yang dikandungnya. Salah seorang juru bicara BEAT yang tidak disebutkan namanya mengatakan, Emma harus sesegera mungkin menghubungi dokter untuk mengatasinya.
"Cairan pembersih tidak akan memberikan nutrisi apapun, justru akan memberikan dampak jangka panjang yang serius bagi kesehatan. Dan yang terpenting, ibu hamil harus memperbanyak makanan bernutrisi untuk pertumbuhan janin yang dikandungnya," ungkap sang juru bicara seperti dikutip dari Dailymail, Senin (18/7/2011).
Rajin Sarapan Saat Hamil Muda Cenderung Melahirkan Anak Laki
Tidak bisa dipungkiri, banyak pasangan suami istri berharap memiliki
setidaknya 1 anak laki-laki dalam keluarganya. Menurut penelitian, ada
banyak cara untuk meningkatkan peluang punya anak laki-laki antara lain
dengan rajin sarapan.
Penelitian yang dilakukan di University of Missouri menunjukkan, perempuan yang rajin sarapan saat hamil muda lebih berpeluang melahirkan bayi laki-laki. Perbedaannya tidak terlalu besar, hanya sekitar 5 persen namun cukup berarti bagi yang sangat menginginkan anak laki-laki.
Faktor yang membedakan antara perempuan yang rajin sarapan dengan yang sering lupa sarapan adalah asupan kalori. Sang peneliti, Dr Cheryl Rosenfeld menjelaskan bahwa makin tinggi asupan kalori saat hamil muda membuat embrio cenderung tumbuh menjadi laki-laki.
Karena itu selain rajin sarapan, perempuan yang sedang hamil muda juga harus memilih makanan yang tinggi kalori jika ingin punya anak laki-laki. Tentunya harus dibatasi, karena jika kalorinya terlalu tinggi maka akan memicu kegemukan dan berbagai masalah kesehatan.
"Diet tinggi kalori membuat ibu hamil cenderung melahirkan anak laki-laki, sebaliknya dengan diet rendah kalori peluang melahirkan anak perempuan lebih besar," ungkap Dr Rosenfeld dalam laporannya di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, dikutip dari Indiavision, Minggu (24/7/2011).
Menurut Dr Rosenfeld, diet tinggi kalori sebenarnya berperan dalam membentuk daya tahan pada janin saat berada di dalam kandungan. Janin perempuan cederung lebih kuat bertahan meski asupan kalorinya lebih rendah, sementara janin laki-laki lebih banyak yang mati dalam kondisi kekurangan kalori.
Hasil penelitian ini sekaligus menjelaskan kecenderungan di banyak negara, yakni kelahiran bayi laki-laki cenderung menurun dan dikhawatirkan akan memicu ketidakseimbangan gender karena ibu hamil banyak yang tidak sarapan. Dr Rosenfeld menduga, bisa jadi salah satu pemicunya adalah kesibukan manusia moderen yang terlalu tinggi sehingga sering tidak sempat sarapan.
Penelitian yang dilakukan di University of Missouri menunjukkan, perempuan yang rajin sarapan saat hamil muda lebih berpeluang melahirkan bayi laki-laki. Perbedaannya tidak terlalu besar, hanya sekitar 5 persen namun cukup berarti bagi yang sangat menginginkan anak laki-laki.
Faktor yang membedakan antara perempuan yang rajin sarapan dengan yang sering lupa sarapan adalah asupan kalori. Sang peneliti, Dr Cheryl Rosenfeld menjelaskan bahwa makin tinggi asupan kalori saat hamil muda membuat embrio cenderung tumbuh menjadi laki-laki.
Karena itu selain rajin sarapan, perempuan yang sedang hamil muda juga harus memilih makanan yang tinggi kalori jika ingin punya anak laki-laki. Tentunya harus dibatasi, karena jika kalorinya terlalu tinggi maka akan memicu kegemukan dan berbagai masalah kesehatan.
"Diet tinggi kalori membuat ibu hamil cenderung melahirkan anak laki-laki, sebaliknya dengan diet rendah kalori peluang melahirkan anak perempuan lebih besar," ungkap Dr Rosenfeld dalam laporannya di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, dikutip dari Indiavision, Minggu (24/7/2011).
Menurut Dr Rosenfeld, diet tinggi kalori sebenarnya berperan dalam membentuk daya tahan pada janin saat berada di dalam kandungan. Janin perempuan cederung lebih kuat bertahan meski asupan kalorinya lebih rendah, sementara janin laki-laki lebih banyak yang mati dalam kondisi kekurangan kalori.
Hasil penelitian ini sekaligus menjelaskan kecenderungan di banyak negara, yakni kelahiran bayi laki-laki cenderung menurun dan dikhawatirkan akan memicu ketidakseimbangan gender karena ibu hamil banyak yang tidak sarapan. Dr Rosenfeld menduga, bisa jadi salah satu pemicunya adalah kesibukan manusia moderen yang terlalu tinggi sehingga sering tidak sempat sarapan.
Kenapa Ibu Hamil Tak Boleh Kebanyakan Pakai Listrik?
Perangkat elektronik memang dibuat untuk memudahkan berbagai aktivitas sehari-hari, namun bukan berarti bisa dipakai berlebihan. Bahkan pada ibu hamil disarankan untuk tidak terlalu sering menggunakan peralatan listrik. Kenapa begitu?
Ilmuwan dari Kaiser Permanente Division of Research, Dr De-Kun Li membuktikan menemukan bahwa pengaruh medan elektromagnetik yang ditimbulkan saat dipakai ibu hamil dapat meningkatkan risiko asma pada anak.
Hasil analisis menunjukkan, ibu hamil yang terpapar medan elektromagnetik tinggi 3,5 kali lebih berisiko untuk melahirkan anak dengan asma bawaan dibandingkan ibu hamil dengan paparan elektromagnetik rendah. Pada paparan sedang, risikonya 74 persen lebih tinggi dibandingkan paparan rendah.
Peningkatan risiko melahirkan anak dengan asma bawaan semakin besar jika ibu hamil tersebut juga punya riwayat asma. Ibu hamil yang punya riwayat asma 6 kali lebih berisiko dibandingkan ibu hamil tanpa riwayat asma, meski terpapar medan elektromagnetik dengan intensitas yang sama.
Urutan kelahiran juga mempengaruhi risiko, sebab ternyata anak pertama lebih terpengaruh medan elektromagnetik dibanding anak ke-2 dan seterusnya. Dikutip dari Healthday, Selasa (2/8/2011), anak pertama 40 persen lebih berisiko kena asma jika saat hamil ibunya banyak terpapar medan listrik.
Kabar baiknya, paparan medan elektromagnetik bisa dikurangi dengan cara mengurangi pemakaian perangkat elektronik yang berlebihan dan menjaga jarak dengan perangkat yang sedang bekerja. Semakin jauh jaraknya, semakin kecil medan elektromagnetik yang terpapar ke tubuhnya.
Dr Li mencontohkan, sebuah microwave rata-rata memiliki medan elektromagnetik berkekuatan 200-500 miligauss. Dengan berdiri sejauh 1 hingga 1,5 meter dari alat tersebut, maka kekuatan medan elektromagnetik yang mengenainya berkurang 1-2 miligauss.
Untuk penelitian ini, ilmuwan mengamati 626 ibu hamil di Amerika Serikat. Selama hamil, para partisipan mengenakan alat untuk mengukur paparan medan elektromagnet lalu perkembangan anaknya diamati hingga 13 tahun kemudian.
Dalam pengamatan tersebut, paparan medan elektromagnetik pada ibu hamil dikategorikan tinggi jika melebihi 2 miligauss (satuan untuk mengukur kekuatan magnet). Kurang dari 0,3 miligauss dikategorikan rendah, sedangkan antara 0,3 hingga 2 miligauss dikategorikan sedang.
Ilmuwan dari Kaiser Permanente Division of Research, Dr De-Kun Li membuktikan menemukan bahwa pengaruh medan elektromagnetik yang ditimbulkan saat dipakai ibu hamil dapat meningkatkan risiko asma pada anak.
Hasil analisis menunjukkan, ibu hamil yang terpapar medan elektromagnetik tinggi 3,5 kali lebih berisiko untuk melahirkan anak dengan asma bawaan dibandingkan ibu hamil dengan paparan elektromagnetik rendah. Pada paparan sedang, risikonya 74 persen lebih tinggi dibandingkan paparan rendah.
Peningkatan risiko melahirkan anak dengan asma bawaan semakin besar jika ibu hamil tersebut juga punya riwayat asma. Ibu hamil yang punya riwayat asma 6 kali lebih berisiko dibandingkan ibu hamil tanpa riwayat asma, meski terpapar medan elektromagnetik dengan intensitas yang sama.
Urutan kelahiran juga mempengaruhi risiko, sebab ternyata anak pertama lebih terpengaruh medan elektromagnetik dibanding anak ke-2 dan seterusnya. Dikutip dari Healthday, Selasa (2/8/2011), anak pertama 40 persen lebih berisiko kena asma jika saat hamil ibunya banyak terpapar medan listrik.
Kabar baiknya, paparan medan elektromagnetik bisa dikurangi dengan cara mengurangi pemakaian perangkat elektronik yang berlebihan dan menjaga jarak dengan perangkat yang sedang bekerja. Semakin jauh jaraknya, semakin kecil medan elektromagnetik yang terpapar ke tubuhnya.
Dr Li mencontohkan, sebuah microwave rata-rata memiliki medan elektromagnetik berkekuatan 200-500 miligauss. Dengan berdiri sejauh 1 hingga 1,5 meter dari alat tersebut, maka kekuatan medan elektromagnetik yang mengenainya berkurang 1-2 miligauss.
Untuk penelitian ini, ilmuwan mengamati 626 ibu hamil di Amerika Serikat. Selama hamil, para partisipan mengenakan alat untuk mengukur paparan medan elektromagnet lalu perkembangan anaknya diamati hingga 13 tahun kemudian.
Dalam pengamatan tersebut, paparan medan elektromagnetik pada ibu hamil dikategorikan tinggi jika melebihi 2 miligauss (satuan untuk mengukur kekuatan magnet). Kurang dari 0,3 miligauss dikategorikan rendah, sedangkan antara 0,3 hingga 2 miligauss dikategorikan sedang.
Karyawan Perempuan yang Sering Masuk Malam Tetap Bisa Hamil
Selama ini, perempuan yang sering bekerja di malam hari diyakini susah hamil. Namun hasil analisis terhadap sejumlah penelitian menunjukkan, hubungan antara kerja malam dengan sistem reproduksi sangat tidak signifikan dan bisa diabaikan.
Anggapan bahwa perempuan yang sering bekerja di malam hari susah hamil didasari oleh perubahan jam biologis. Perempuan yang jam biologisnya tidak teratur akan mengalami perubahan kondisi hormonal yang selama ini diyakini memicu berbagai masalah reproduksi.
Selain menjadi susah hamil, perubahan siklus hormonal itu juga membuat para perempuan sering mengalami menstruasi tidak teratur. Kalaupun bisa hamil, kadang-kadang risikonya tinggi untuk mengalami kelahiran prematur maupun bayi lahir dengan berat badan rendah.
Namun anggapan ini terbantahkan oleh hasil analisis yang dilakukan Dr Matteo Bonzini dari University of Insubria di Italia, terhadap 23 penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Jumlah partisipan yang terlibat di masing-masing penelitian cukup beragam, mulai dari 700 hingga 35.000 orang.
Dari sekian banyak penelitian yang dianalisis, sebagian memang menunjukkan adanya hubungan antara masuk malam dengan ketidakseimbangan hormonal. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap para perawat di sejumlah rumah sakit.
Dibandingkan para perempuan dengan profesi lainnya, perawat yang sering piket malam di rumah sakit lebih sering mengalami menstruasi yang tidak teratur. Meski diyakini bahwa kecenderungan ini mempengaruhi kesuburan, namun tidak ada cukup bukti untuk disimpulkan demikian.
Secara keseluruhan, 23 penelitian itu rata-rata menunjukkan bahwa perempuan yang sering bekerja di malam hari punya risiko 16 persen lebih besar untuk bermasalah dengan sistem reproduksi. Dilihat dari angkanya, risiko ini memang cukup signifikan.
Namun Dr Bonzini mengatakan, beberapa faktor lain membuat angka itu menjadi tidak signifikan karena masalah reproduksi tidak secara langsung dipicu oleh kebiasaan bekerja di malam hari. Faktor-faktor lain yang dimaksud antara lain faktor sosial, ekonomi dan gaya hidup.
Menurut Dr Bonzini, perempuan yang sering masuk malam biasanya berpenghasilan relatif rendah sehingga sulit mengakses layanan kesehatan. Selain itu, agar tidak mengantuk beberapa perempuan pekerja malam sering mengonsumsi kopi dan rokok yang akan mempengaruhi kesehatannya.
"Bukti-bukti yang ada saat ini tidak mengharuskan perusahaan untuk membatasi para perempuan untuk bekerja di malam hari, dalam kaitannya dengan peluang untuk memiliki keturunan," ungkap Dr Bonzini seperti dikutip dari Reuters, Senin (22/8/2011).
Anggapan bahwa perempuan yang sering bekerja di malam hari susah hamil didasari oleh perubahan jam biologis. Perempuan yang jam biologisnya tidak teratur akan mengalami perubahan kondisi hormonal yang selama ini diyakini memicu berbagai masalah reproduksi.
Selain menjadi susah hamil, perubahan siklus hormonal itu juga membuat para perempuan sering mengalami menstruasi tidak teratur. Kalaupun bisa hamil, kadang-kadang risikonya tinggi untuk mengalami kelahiran prematur maupun bayi lahir dengan berat badan rendah.
Namun anggapan ini terbantahkan oleh hasil analisis yang dilakukan Dr Matteo Bonzini dari University of Insubria di Italia, terhadap 23 penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Jumlah partisipan yang terlibat di masing-masing penelitian cukup beragam, mulai dari 700 hingga 35.000 orang.
Dari sekian banyak penelitian yang dianalisis, sebagian memang menunjukkan adanya hubungan antara masuk malam dengan ketidakseimbangan hormonal. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap para perawat di sejumlah rumah sakit.
Dibandingkan para perempuan dengan profesi lainnya, perawat yang sering piket malam di rumah sakit lebih sering mengalami menstruasi yang tidak teratur. Meski diyakini bahwa kecenderungan ini mempengaruhi kesuburan, namun tidak ada cukup bukti untuk disimpulkan demikian.
Secara keseluruhan, 23 penelitian itu rata-rata menunjukkan bahwa perempuan yang sering bekerja di malam hari punya risiko 16 persen lebih besar untuk bermasalah dengan sistem reproduksi. Dilihat dari angkanya, risiko ini memang cukup signifikan.
Namun Dr Bonzini mengatakan, beberapa faktor lain membuat angka itu menjadi tidak signifikan karena masalah reproduksi tidak secara langsung dipicu oleh kebiasaan bekerja di malam hari. Faktor-faktor lain yang dimaksud antara lain faktor sosial, ekonomi dan gaya hidup.
Menurut Dr Bonzini, perempuan yang sering masuk malam biasanya berpenghasilan relatif rendah sehingga sulit mengakses layanan kesehatan. Selain itu, agar tidak mengantuk beberapa perempuan pekerja malam sering mengonsumsi kopi dan rokok yang akan mempengaruhi kesehatannya.
"Bukti-bukti yang ada saat ini tidak mengharuskan perusahaan untuk membatasi para perempuan untuk bekerja di malam hari, dalam kaitannya dengan peluang untuk memiliki keturunan," ungkap Dr Bonzini seperti dikutip dari Reuters, Senin (22/8/2011).
Banyak Ibu Minta Caesar dengan Usia Hamil yang Belum Penuh
Operasi caesar memang menjadi pilihan para ibu yang ingin melahirkan dengan lebih aman, meskipun hal ini menyebabkan biaya persalinan menjadi jauh lebih mahal. Namun, terkadang caesar dilakukan karena orang tua bayi memilihkan tanggal tertentu untuk kelahiran sang buah hati.
Tren melahirkan sebelum waktunya ini membuat The March of Dimes prihatin. Untuk menekan angka kematian bayi akibat kelahiran yang terlalu awal dengan cara induksi atau caesar mereka melakukan kampanye dengan slogan 'Bayi sehat patut ditunggu'.
The March of Dimes mencatat maraknya tren melahirkan dengan cara caesar sebelum usia kehamilan 39 minggu seperti dilansir dari The New York Times, Senin (22/8/2011). Peningkatan angka kelahiran caesar di Amerika banyak terjadi sebelum usia kehamilan 39 minggu.
Penelitian telah menunjukkan bahwa sebanyak 36 persen operasi caesar terjadi sebelum usia kandungan 39 minggu. Padahal melahirkan dengan usia kehamilan yang kurang dapat menyebabkan kelahiran prematur dan menimbulkan berbagai komplikasi yang menyebabkan biaya perawatan mahal.
Meskipun pedoman yang diterbitkan 12 tahun lalu oleh American College of Obstetricians and Gynecologists memperingatkan kelahiran bayi dengan induksi atau caesar sebelum usia 39 minggu tidak baik, namun mayoritas ibu dan banyak dokter percaya bahwa bayi akan aman meskipun kelahiran terjadi di minggu sebelumnya .
Fakta medis menunjukkan bahwa pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan di bawah 39-40 minggu, punya risiko komplikasi seperti gangguan pernapasan, sakit kuning, infeksi, gula darah rendah, hari perawatan pasca melahirkan di rumah sakit lebih panjang dan bahkan kematian bayi baru lahir.
Meskipun banyak ibu berpikir bahwa berat badan bayi sudah mencukupi pada beberapa minggu terakhir kehamilan, Dr Hawa Lackritz dari maternal and infant health of the national Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta mengatakan, organ vital seperti otak, paru-paru dan hati masih dalam perkembangan.
"Bayi tidak sepenuhnya berkembang sampai 39 minggu. Sebagai contoh, otak bayi di usia kehamilan 35 minggu beratnya hanya dua pertiga dari berat bayi pada 39-40 minggu," kata Dr Lackritz.
Seringkali wanita keliru tentang kapan mulai hamil, sehingga dapat mengacaukan perhitungan tanggal perkiraan lahir bayi. Kehamilan dihitung dari hari pertama periode terakhir menstruasi wanita.
Seorang ibu mungkin berpikir kehamilannya telah berlangsung selama 39 minggu padahal ketika itu baru 37 minggu usia kehamilannya. Seringnya salah perhitungan mengenai usia kehamilan ini menyebabkan kelahiran bayi yang terlalu awal.
Untuk mengatasi komplikasi dan menghindari biaya yang lebih tinggi terkait dengan kelahiran bayi prematur, pada Januari 2001 sembilan rumah sakit kota di Utah mempunyai sebuah program untuk pembatasan kelahiran bayi sebelum usia 39 minggu. Program ini mencakup program pendidikan untuk dokter, perawat dan wanita hamil.
Tren melahirkan sebelum waktunya ini membuat The March of Dimes prihatin. Untuk menekan angka kematian bayi akibat kelahiran yang terlalu awal dengan cara induksi atau caesar mereka melakukan kampanye dengan slogan 'Bayi sehat patut ditunggu'.
The March of Dimes mencatat maraknya tren melahirkan dengan cara caesar sebelum usia kehamilan 39 minggu seperti dilansir dari The New York Times, Senin (22/8/2011). Peningkatan angka kelahiran caesar di Amerika banyak terjadi sebelum usia kehamilan 39 minggu.
Penelitian telah menunjukkan bahwa sebanyak 36 persen operasi caesar terjadi sebelum usia kandungan 39 minggu. Padahal melahirkan dengan usia kehamilan yang kurang dapat menyebabkan kelahiran prematur dan menimbulkan berbagai komplikasi yang menyebabkan biaya perawatan mahal.
Meskipun pedoman yang diterbitkan 12 tahun lalu oleh American College of Obstetricians and Gynecologists memperingatkan kelahiran bayi dengan induksi atau caesar sebelum usia 39 minggu tidak baik, namun mayoritas ibu dan banyak dokter percaya bahwa bayi akan aman meskipun kelahiran terjadi di minggu sebelumnya .
Fakta medis menunjukkan bahwa pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan di bawah 39-40 minggu, punya risiko komplikasi seperti gangguan pernapasan, sakit kuning, infeksi, gula darah rendah, hari perawatan pasca melahirkan di rumah sakit lebih panjang dan bahkan kematian bayi baru lahir.
Meskipun banyak ibu berpikir bahwa berat badan bayi sudah mencukupi pada beberapa minggu terakhir kehamilan, Dr Hawa Lackritz dari maternal and infant health of the national Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta mengatakan, organ vital seperti otak, paru-paru dan hati masih dalam perkembangan.
"Bayi tidak sepenuhnya berkembang sampai 39 minggu. Sebagai contoh, otak bayi di usia kehamilan 35 minggu beratnya hanya dua pertiga dari berat bayi pada 39-40 minggu," kata Dr Lackritz.
Seringkali wanita keliru tentang kapan mulai hamil, sehingga dapat mengacaukan perhitungan tanggal perkiraan lahir bayi. Kehamilan dihitung dari hari pertama periode terakhir menstruasi wanita.
Seorang ibu mungkin berpikir kehamilannya telah berlangsung selama 39 minggu padahal ketika itu baru 37 minggu usia kehamilannya. Seringnya salah perhitungan mengenai usia kehamilan ini menyebabkan kelahiran bayi yang terlalu awal.
Untuk mengatasi komplikasi dan menghindari biaya yang lebih tinggi terkait dengan kelahiran bayi prematur, pada Januari 2001 sembilan rumah sakit kota di Utah mempunyai sebuah program untuk pembatasan kelahiran bayi sebelum usia 39 minggu. Program ini mencakup program pendidikan untuk dokter, perawat dan wanita hamil.
Mual Muntah yang Parah Saat Hamil Pertanda Anak Mudah Stres
Morning sickness atau mual muntah di pagi hari adalah gejala yang wajar saat hamil muda. Namun jika intensitasnya sangat parah, gejala itu bisa menandakan bahwa anaknya akan lebih berisiko mengalami stres dan depresi saat tumbuh dewasa.
Dalam istilah medis, mual muntah yang sangat para selama hamil muda disebut Hyperemesis Gravidarum (HG). Selain muncul terlalu sering, gangguan ini saking parahnya juga bisa menyebabkan dehidrasi (kehilangan cairan) dan malnutrisi (kurang gizi).
Menurut penelitian terbaru di University of Southern California, ibu hamil yang mengalami HG lebih berisiko melahirkan anak yang rentan depresi saat tumbuh dewasa. Risikonya 4 kali lebih tinggi dibanding ibu hamil yang mual muntahnya masih terhitung wajar.
"Meski HG sudah sering dihubungkan dengan dehidrasi dan malnutrisi, penelitian ini adalah yang pertama mengungkap hubungannya dengan risiko depresi," ungkap Dr Marlena Feljo yang memimpin penelitian tersebut, seperti dikutip dari Irishhealth, Kamis (25/8/2011).
Penelitian tersebut dilakukan terhadap ratusan perempuan di seluruh Amerika Serikat yang ibunya mengalami HG saat mengandung. Sebagai pembanding, para peneliti juga mengamati sejumlah perempuan yang ibunya tidak mengalami HG ketika hamil muda.
Hasilnya, 16 persen partisipan yang ibunya mengalami HG punya riwayat depresi ketika sudah dewasa sementara pada partisipan yang ibunya tidak mengalami HG angkanya hanya 3 persen. Gangguan suasana hati atau bipolar dialami 8 pesen partisipan yang ibunya mengalami HG dan hanya 2 persen dari partisipan dari kelompok pembanding.
Partisipan yang ibunya mengalami HG ketika hamil muda juga lebih mudah merasa gelisah. Kegelisahan dialami oleh 7 persen partisipan yang ibunya mengalami HG sedangkan pada partisipan pembanding angkanya sekitar hanya 2 persen.
Dalam istilah medis, mual muntah yang sangat para selama hamil muda disebut Hyperemesis Gravidarum (HG). Selain muncul terlalu sering, gangguan ini saking parahnya juga bisa menyebabkan dehidrasi (kehilangan cairan) dan malnutrisi (kurang gizi).
Menurut penelitian terbaru di University of Southern California, ibu hamil yang mengalami HG lebih berisiko melahirkan anak yang rentan depresi saat tumbuh dewasa. Risikonya 4 kali lebih tinggi dibanding ibu hamil yang mual muntahnya masih terhitung wajar.
"Meski HG sudah sering dihubungkan dengan dehidrasi dan malnutrisi, penelitian ini adalah yang pertama mengungkap hubungannya dengan risiko depresi," ungkap Dr Marlena Feljo yang memimpin penelitian tersebut, seperti dikutip dari Irishhealth, Kamis (25/8/2011).
Penelitian tersebut dilakukan terhadap ratusan perempuan di seluruh Amerika Serikat yang ibunya mengalami HG saat mengandung. Sebagai pembanding, para peneliti juga mengamati sejumlah perempuan yang ibunya tidak mengalami HG ketika hamil muda.
Hasilnya, 16 persen partisipan yang ibunya mengalami HG punya riwayat depresi ketika sudah dewasa sementara pada partisipan yang ibunya tidak mengalami HG angkanya hanya 3 persen. Gangguan suasana hati atau bipolar dialami 8 pesen partisipan yang ibunya mengalami HG dan hanya 2 persen dari partisipan dari kelompok pembanding.
Partisipan yang ibunya mengalami HG ketika hamil muda juga lebih mudah merasa gelisah. Kegelisahan dialami oleh 7 persen partisipan yang ibunya mengalami HG sedangkan pada partisipan pembanding angkanya sekitar hanya 2 persen.
Perubahan Pada Kulit Selama Kehamilan
Saat hamil seseorang pasti mengalami perubahan di dalam tubuhnya, termasuk pada kulit. Perubahan apa saja yang terjadi pada kulit ibu hamil?
Ibu hamil mengalami fluktuasi hormon yang bisa mempengaruhi penampilan seseorang termasuk pada kulit dan umumnya akan hilang setelah bayi yang dikandung lahir. Meski pada beberapa kasus perubahan kulit tersebut masih terjadi.
Berikut ini perubahan kulit yang terjadi ketika seseorang sedang hamil, seperti dikutip dari Lifemojo, Jumat (26/8/2011) yaitu:
1. Bercak-bercak pada kulit wajah
Produksi hormon yang berlebihan akan mengakibatkan pigmentasi meningkat yang memicu munculnya titik-titik atau bercak coklat di kulit wajah terutama pada dahi, bercak ini dikenal sebagai melasma dan chlosma. Salah satu cara mencegahnya adalah menghindari sinar matahari yang berlebihan.
2. Jerawat
Jika diketahui memiliki kulit yang rentan jerawat, maka perlu penanganan ekstra selama hamil. Kelebihan hormon akan mengaktifkan kelenjar untuk menghasilkan minyak lebih banyak sehingga memicu munculnya jerawat. Untuk itu rajin-rajinlah mencuci muka dan menjaga kulit agar tetap bersih.
3. Pembuluh darah menonjol
Saat hamil pembuluh darah kecil akan lebih menonjol di sekitar daerah wajah dan dada bagian atas, tapi akan hilang setelah kehamilan selesai atau disebut dengan spider veins.
4. Linea nigra
Selama bulan keempat atau kelima kehamilan, maka akan muncul garis gelap dari pusar menuju tulang kemaluan, kondisi ini disebut dengan linea nigra. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, dan tidak ada yang perlu dilakukan untuk mencegahnya.
5. Stretch marks
Ini adalah sesuatu yang kebanyakan perempuan tidak bisa hindari selama hamil. Umumnya akan terlihat jelas garis-garis kemerahan di perut. Para ahli merekomendasikan untuk melakukan latihan dan menggunakan lotion khusus.
6. Pregnancy glow
Hal ini terjadi karena sirkulasi darah meningkat dalam tubuh sehingga berdampak pada kulit wajah menjadi lebih bercahaya (glow).
7. Kulit gatal
Kondisi ini biasanya terbatas pada daerah perut, karena perut jadi lebih kencang dan meregang seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Pada kondisi tertentu gatal bisa menyebar ke daerah lengan dan kaki atau dikenal sebagai pruritic urticarial papules.
8. Varises
Saat hamil akan muncul urat biru (varises) di kaki yang terjadi karena tubuh menyesuaikan diri dalam membawa lebih banyak aliran darah untuk bayi. Intensitas nyeri yang muncul bisa dikurangi dengan tidak berdiri dalam jangka waktu lama, berjalan sebanyak mungkin dan menggunakan stocking.
Ibu hamil mengalami fluktuasi hormon yang bisa mempengaruhi penampilan seseorang termasuk pada kulit dan umumnya akan hilang setelah bayi yang dikandung lahir. Meski pada beberapa kasus perubahan kulit tersebut masih terjadi.
Berikut ini perubahan kulit yang terjadi ketika seseorang sedang hamil, seperti dikutip dari Lifemojo, Jumat (26/8/2011) yaitu:
1. Bercak-bercak pada kulit wajah
Produksi hormon yang berlebihan akan mengakibatkan pigmentasi meningkat yang memicu munculnya titik-titik atau bercak coklat di kulit wajah terutama pada dahi, bercak ini dikenal sebagai melasma dan chlosma. Salah satu cara mencegahnya adalah menghindari sinar matahari yang berlebihan.
2. Jerawat
Jika diketahui memiliki kulit yang rentan jerawat, maka perlu penanganan ekstra selama hamil. Kelebihan hormon akan mengaktifkan kelenjar untuk menghasilkan minyak lebih banyak sehingga memicu munculnya jerawat. Untuk itu rajin-rajinlah mencuci muka dan menjaga kulit agar tetap bersih.
3. Pembuluh darah menonjol
Saat hamil pembuluh darah kecil akan lebih menonjol di sekitar daerah wajah dan dada bagian atas, tapi akan hilang setelah kehamilan selesai atau disebut dengan spider veins.
4. Linea nigra
Selama bulan keempat atau kelima kehamilan, maka akan muncul garis gelap dari pusar menuju tulang kemaluan, kondisi ini disebut dengan linea nigra. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, dan tidak ada yang perlu dilakukan untuk mencegahnya.
5. Stretch marks
Ini adalah sesuatu yang kebanyakan perempuan tidak bisa hindari selama hamil. Umumnya akan terlihat jelas garis-garis kemerahan di perut. Para ahli merekomendasikan untuk melakukan latihan dan menggunakan lotion khusus.
6. Pregnancy glow
Hal ini terjadi karena sirkulasi darah meningkat dalam tubuh sehingga berdampak pada kulit wajah menjadi lebih bercahaya (glow).
7. Kulit gatal
Kondisi ini biasanya terbatas pada daerah perut, karena perut jadi lebih kencang dan meregang seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Pada kondisi tertentu gatal bisa menyebar ke daerah lengan dan kaki atau dikenal sebagai pruritic urticarial papules.
8. Varises
Saat hamil akan muncul urat biru (varises) di kaki yang terjadi karena tubuh menyesuaikan diri dalam membawa lebih banyak aliran darah untuk bayi. Intensitas nyeri yang muncul bisa dikurangi dengan tidak berdiri dalam jangka waktu lama, berjalan sebanyak mungkin dan menggunakan stocking.
Ekspresi Janin Bisa Jadi Indikator Fungsi Otak
Terkadang janin menunjukkan ekspresi wajah tertentu saat diperiksa melalui USG (ultrasonografi). Tapi ternyata ekspresi yang ditunjukkan janin bisa menjadi indikator fungsi otaknya.
Studi yang dipimpin oleh peneliti Inggris Dr Nadja Reissland menuturkan bahwa ekspresi wajah seperti tertawa dan menangis berkembang sebelum kelahiran dan menjadi lebih kompleks sampai mencapai usia kehamilan 36 minggu.
Perkembangan gerakan wajah pada janin adalah hal penting untuk mengetahui berbagai fungsi setelah kelahiran, seperti gerakan mengisap bayi saat makan, rahang dan lidah yang diperlukan untuk berbicara serta diperlukan untuk meningkatkan ikatan bayi dan orangtua setelah kelahiran.
Otot-otot wajah mulai berkembang saat usia kehamilan 8 minggu, dan semua otot yang digunakan dalam ekspresi wajah dibentuk pada usia 16 minggu. Kemungkinan ekspresi wajah pada janin antara 24-36 minggu dibentuk dari jaringan adiposa yang terbangun selama periode tersebut.
Peneliti mempelajari ekspresi wajah janin dengan menerapkan Facial Action Coding System (FACS) pada USG 4D. Seiring meningkatnya usia kehamilan, maka gerakan wajah, tungkai dan tubuh janin semakin berkorelasi dengan perkembangan struktural dari sistem saraf pusat.
Perkembangan ini menunjukkan adanya hubungan antara korteks serebral dan perifer struktur janin yang fungsional. Karenanya ekspresi janin mungkin bisa memprediksi fungsi otak janin yang sehat.
"Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa ada potensi besar dari metode ini untuk menilai perkembangan janin," ujar Dr Nadja Reissland dari Durham University, seperti dikutip dari MedIndia, Sabtu (24/9/2011).
Dr Reissland menuturkan kode dan analisis ini memungkinkan bagi peneliti untuk secara obyektif melacak peningkatan kompleksitas dari waktu ke waktu dalam menghasilkan ekspresi wajah yang dikenali.
Metode pengkodean dari gerakan wajah janin ini bermanfaat untuk:
Studi yang dipimpin oleh peneliti Inggris Dr Nadja Reissland menuturkan bahwa ekspresi wajah seperti tertawa dan menangis berkembang sebelum kelahiran dan menjadi lebih kompleks sampai mencapai usia kehamilan 36 minggu.
Perkembangan gerakan wajah pada janin adalah hal penting untuk mengetahui berbagai fungsi setelah kelahiran, seperti gerakan mengisap bayi saat makan, rahang dan lidah yang diperlukan untuk berbicara serta diperlukan untuk meningkatkan ikatan bayi dan orangtua setelah kelahiran.
Otot-otot wajah mulai berkembang saat usia kehamilan 8 minggu, dan semua otot yang digunakan dalam ekspresi wajah dibentuk pada usia 16 minggu. Kemungkinan ekspresi wajah pada janin antara 24-36 minggu dibentuk dari jaringan adiposa yang terbangun selama periode tersebut.
Peneliti mempelajari ekspresi wajah janin dengan menerapkan Facial Action Coding System (FACS) pada USG 4D. Seiring meningkatnya usia kehamilan, maka gerakan wajah, tungkai dan tubuh janin semakin berkorelasi dengan perkembangan struktural dari sistem saraf pusat.
Perkembangan ini menunjukkan adanya hubungan antara korteks serebral dan perifer struktur janin yang fungsional. Karenanya ekspresi janin mungkin bisa memprediksi fungsi otak janin yang sehat.
"Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa ada potensi besar dari metode ini untuk menilai perkembangan janin," ujar Dr Nadja Reissland dari Durham University, seperti dikutip dari MedIndia, Sabtu (24/9/2011).
Dr Reissland menuturkan kode dan analisis ini memungkinkan bagi peneliti untuk secara obyektif melacak peningkatan kompleksitas dari waktu ke waktu dalam menghasilkan ekspresi wajah yang dikenali.
Metode pengkodean dari gerakan wajah janin ini bermanfaat untuk:
- Penanda untuk mengetahui perkembangan normal
- Memiliki potensi besar untuk menilai integritas sistem saraf pusat dari janin
- Digunakan untuk mendeteksi gangguan otak fungsional atau struktural
- Membedakan antara perkembangan wajah janin yang normal dan abnormal untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dalam rahim.
Hindari Kesalahan Ini Jika Ingin Cepat Hamil
Tidak ada orang yang bisa memprediksi dengan pasti kapan perempuan akan hamil. Meski begitu ada beberapa kesalahan yang kerap dilakukan pasangan sehingga mengurangi kemungkinannya untuk hamil.
Ada berbagai alasan yang membuat seseorang sulit untuk hamil selain akibat masalah medis tertentu yang serius. Beberapa cara dilakukan seperti ada yang mencoba konsumsi obat atau teknik tertentu. Tapi kadang pasangan mengabaikan beberapa kesalahan yang umum.
Untuk itu hindari kesalahan-kesalahan berikut ini jika ingin cepat hamil, seperti dikutip dari Buzzle, Selasa (4/10/2011) yaitu:
1. Tidak menempatkan prioritas dengan tepat
Tidak salah jika orang menempatkan urutan kebutuhan untuk membeli rumah, tabungan dan lainnya terlebih dahulu sebelum merencanakan memiliki anak. Tapi ada hal penting yang harus dipahami, yaitu kondisi tubuh. Semakin lama memperlambat maka semakin kecil kemungkinan untuk hamil karena kualitas dan jumlah sel telur semakin berkurang.
2. Melakukan hubungan seks setiap hari
Banyak pasangan yang tidak tahu bahwa hubungan seks setiap hari bisa mengurangi jumlah sperma dan butuh waktu tertentu agar kembali normal. Jadi berhubungan seks setiap hari bukan meningkatkan peluang hamil tapi justru menguranginya.
3. Kesalahan dalam menghitung waktu ovulasi (masa subur)
Kebanyakan perempuan beranggapan masa ovulasinya adalah hari ke-14 sejak hari pertama menstruasi, padahal waktu ovulasi sangat bervariasi tiap orang ada yang lebih cepat atau justru lebih lambat. Jika menstruasinya teratur, maka akan lebih mudah menghitung waktu suburnya.
4. Kesalahan gaya hidup yang mempengaruhi kesuburan
Gaya hidup tertentu sangat mempengaruhi kesuburan seperti merokok, diet yang tidak seimbang atau tidak sehat atau berat badan berlebih yang bisa menghambat kehamilan.
5. Terlalu memikirkan posisi saat bercinta
Beberapa pasangan masih berpikir posisi saat bercinta pengaruhi kesempatan untuk hamil, padahal posisi tidak memainkan peran apapun, karenanya jangan terlalu stres atau mencoba gerakan-gerakan yang justru bisa membahayakan alat kelamin.
6. Stres memikirkan kehamilan
Stres yang terjadi sebelum, selama atau setelah kehamilan adalah hal yang tidak sehat, karena bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi hormon kehamilan HCG. Untuk itu usahakan tetap rileks dan santai agar kesempatan hamilnya lebih ebsar.
7. Terlalu lama menunggu untuk pergi ke dokter spesialis
Sebaiknya jangan terlalu lama menunggu untuk pergi ke dokter spesialis, jika sudah melewati waktu 1 tahun dan belum juga hamil tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter. Tapi jika ada keluhan lain seperti menstruasi yang sakit, pernah memiliki infeksi panggul atau keputihan yang parah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter lebih cepat.
Ada berbagai alasan yang membuat seseorang sulit untuk hamil selain akibat masalah medis tertentu yang serius. Beberapa cara dilakukan seperti ada yang mencoba konsumsi obat atau teknik tertentu. Tapi kadang pasangan mengabaikan beberapa kesalahan yang umum.
Untuk itu hindari kesalahan-kesalahan berikut ini jika ingin cepat hamil, seperti dikutip dari Buzzle, Selasa (4/10/2011) yaitu:
1. Tidak menempatkan prioritas dengan tepat
Tidak salah jika orang menempatkan urutan kebutuhan untuk membeli rumah, tabungan dan lainnya terlebih dahulu sebelum merencanakan memiliki anak. Tapi ada hal penting yang harus dipahami, yaitu kondisi tubuh. Semakin lama memperlambat maka semakin kecil kemungkinan untuk hamil karena kualitas dan jumlah sel telur semakin berkurang.
2. Melakukan hubungan seks setiap hari
Banyak pasangan yang tidak tahu bahwa hubungan seks setiap hari bisa mengurangi jumlah sperma dan butuh waktu tertentu agar kembali normal. Jadi berhubungan seks setiap hari bukan meningkatkan peluang hamil tapi justru menguranginya.
3. Kesalahan dalam menghitung waktu ovulasi (masa subur)
Kebanyakan perempuan beranggapan masa ovulasinya adalah hari ke-14 sejak hari pertama menstruasi, padahal waktu ovulasi sangat bervariasi tiap orang ada yang lebih cepat atau justru lebih lambat. Jika menstruasinya teratur, maka akan lebih mudah menghitung waktu suburnya.
4. Kesalahan gaya hidup yang mempengaruhi kesuburan
Gaya hidup tertentu sangat mempengaruhi kesuburan seperti merokok, diet yang tidak seimbang atau tidak sehat atau berat badan berlebih yang bisa menghambat kehamilan.
5. Terlalu memikirkan posisi saat bercinta
Beberapa pasangan masih berpikir posisi saat bercinta pengaruhi kesempatan untuk hamil, padahal posisi tidak memainkan peran apapun, karenanya jangan terlalu stres atau mencoba gerakan-gerakan yang justru bisa membahayakan alat kelamin.
6. Stres memikirkan kehamilan
Stres yang terjadi sebelum, selama atau setelah kehamilan adalah hal yang tidak sehat, karena bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi hormon kehamilan HCG. Untuk itu usahakan tetap rileks dan santai agar kesempatan hamilnya lebih ebsar.
7. Terlalu lama menunggu untuk pergi ke dokter spesialis
Sebaiknya jangan terlalu lama menunggu untuk pergi ke dokter spesialis, jika sudah melewati waktu 1 tahun dan belum juga hamil tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter. Tapi jika ada keluhan lain seperti menstruasi yang sakit, pernah memiliki infeksi panggul atau keputihan yang parah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter lebih cepat.
Ibu Hamil Tak Perlu Tunda Pengobatan Kemoterapi
Selama ini banyak ibu hamil yang takut menjalani pengobatan kemoterapi. Tapi studi membuktikan bahwa ibu hamil tak perlu menunda kemoterapi, karena kemoterapi tidak membahayakan janin yang dikandungnya.
Para ilmuwan yang mempelajari hal ini menemukan ibu hamil yang melakukan kemoterapi tidak akan membahayakan janinnya. Tapi dampak buruk justru bisa terjadi jika bayi tersebut lahir secara prematur baik secara alami atau melalui induksi.
"Data menunjukkan anak-anak lebih menderita jika dilahirkan secara prematur (sebelum waktunya) daripada akibat kemoterapi saat hamil," ujar Dr Frederic Amant, seorang ginekolog onkologi dari University Hospitals Leuven di Belgia, seperti dikutip dari Reuters, Senin (3/10/2011).
Ia menuturkan tidak ada kebutuhan bagi pasien kanker yang hamil untuk melakukan aborsi atau menunda pengobatan kemoterapinya. Tapi yang harus ditekankan adalah menghindari induksi untuk melahirkan lebih dini.
"Pengalaman saya, banyak perempuan yang memutuskan untuk melakukan aborsi karena mereka beranggapan pengobatan ini mungkin bisa berbahaya bagi bayi yang ada dalam kandungannya," ujar Dr Amant.
Tim dari Dr Amant meneliti 68 kehamilan, sekitar dua pertiganya lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Ditemukan tingkat dan jenis cacat bawaan dari bayi-bayi ini mirip dengan populasi pada umumnya seperti tingkat pertumbuhan, kesehatan secara umum dan perkembangannya, serta tidak menemukan adanya kelainan jantung.
Sementara itu perkembangan kognitif yang diukur seperti tingkat IQ dan tes perilaku berada dikisaran normal, hanya anak-anak yang lahir prematur memiliki nilai IQ di bawah normal.
"Hanya sebagian kecil saja obat kemoterapi yang bisa sampai ke plasenta dan janin dan obat tersebut tidak memiliki efek kesehatan pada perkembangan janin," ungkap Dr Amant yang telah mempresentasi temuannya pada European Multidisciplinary Cancer Congress (EMCC) di Stockholm.
Karena jumlah responden yang terlibat dalam studi ini masih kecil, maka diperlukan studi lebih lanjut untuk menindaklanjuti efek jangka panjangnya.
Para ilmuwan yang mempelajari hal ini menemukan ibu hamil yang melakukan kemoterapi tidak akan membahayakan janinnya. Tapi dampak buruk justru bisa terjadi jika bayi tersebut lahir secara prematur baik secara alami atau melalui induksi.
"Data menunjukkan anak-anak lebih menderita jika dilahirkan secara prematur (sebelum waktunya) daripada akibat kemoterapi saat hamil," ujar Dr Frederic Amant, seorang ginekolog onkologi dari University Hospitals Leuven di Belgia, seperti dikutip dari Reuters, Senin (3/10/2011).
Ia menuturkan tidak ada kebutuhan bagi pasien kanker yang hamil untuk melakukan aborsi atau menunda pengobatan kemoterapinya. Tapi yang harus ditekankan adalah menghindari induksi untuk melahirkan lebih dini.
"Pengalaman saya, banyak perempuan yang memutuskan untuk melakukan aborsi karena mereka beranggapan pengobatan ini mungkin bisa berbahaya bagi bayi yang ada dalam kandungannya," ujar Dr Amant.
Tim dari Dr Amant meneliti 68 kehamilan, sekitar dua pertiganya lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Ditemukan tingkat dan jenis cacat bawaan dari bayi-bayi ini mirip dengan populasi pada umumnya seperti tingkat pertumbuhan, kesehatan secara umum dan perkembangannya, serta tidak menemukan adanya kelainan jantung.
Sementara itu perkembangan kognitif yang diukur seperti tingkat IQ dan tes perilaku berada dikisaran normal, hanya anak-anak yang lahir prematur memiliki nilai IQ di bawah normal.
"Hanya sebagian kecil saja obat kemoterapi yang bisa sampai ke plasenta dan janin dan obat tersebut tidak memiliki efek kesehatan pada perkembangan janin," ungkap Dr Amant yang telah mempresentasi temuannya pada European Multidisciplinary Cancer Congress (EMCC) di Stockholm.
Karena jumlah responden yang terlibat dalam studi ini masih kecil, maka diperlukan studi lebih lanjut untuk menindaklanjuti efek jangka panjangnya.
Perubahan-perubahan yang Terjadi Setelah Memiliki Anak
Memiliki anak memang membawa kebahagiaan tersendiri bagi pasangan orangtua. Tapi anak juga bisa membawa beberapa perubahan pada diri orangtua, perubahan apa saja yang terjadi saat memiliki anak?
Tak hanya membuat rumah ramai, kehadiran anak ternyata juga memiliki manfaat kesehatan seperti menurunkan tekanan darah, membuat tubuh tetap aktif bergerak, menajdi lebih bahagia, membuat otak tetap waras dan lebih banyak pengetahuan.
Meski begitu ada beberapa perubahan yang terjadi ketika sudah memiliki anak, seperti dikutip dari The Sun, Kamis (29/9/2011) yaitu:
1. Waktu tidur malam yang berkurang
Sudah menjadi rahasia umum bahwa waktu tidur orangtua akan berkurang ketika ia baru memiliki anak. Tapi agar tidak kekurangan waktu istirahat maka pintar-pintarlah membagi waktu. Usahakan ikut tidur ketika si kecil tidur siang serta memberikan jadwal piket di malam hari agar pasangan tetap bisa beristirahat.
2. Memiliki sedikit waktu untuk diri sendiri
Memiliki bayi yang baru lahir akan membuat seseorang sulit berkumpul dengan teman-teman karena harus menjaga bayinya 24 jam dalam 7 hari seminggu. Untuk mengatasinya cobalah mencari cara menyenangkan diri sendiri sambil tetap menjaga bayi, atau meminta bantuan orang lain untuk menjaga bayi dan gunakan waktu untuk memanjakan diri sendiri.
3. Khawatir dengan keuangan
Umumnya bayi memiliki keperluan yang tidak sedikit sehingga mempengaruhi jumlah pengeluaran keluarga. Buatlah daftar apa saja pengeluaran bayi dan pendapatan yang diterima, sehingga bisa membuat daftar prioritas.
4. Perubahan suasana hati
Kelelahan dalam menjaga bayi dan adanya fluktuasi hormon yang belum stabil membuat seseorang memiliki suasana hati yang mudah berubah-ubah. Cobalah bermeditasi selama beberapa menit setiap harinya untuk menenangkan diri dan hindari konsumsi kafein.
5. Pasangan yang cemburu
Perempuan biasanya akan memberikan perhatian yang lebih pada buah hatinya, kondisi ini tak jarang menimbulkan kecemburuan tersendiri bagi pasangan. Jika muncul gejala seperti itu cobalah bicarakan dengan pasangan dan berilah pujian atau perhatian kecil padanya.
6. Berbagi tugas dengan pasangan
Mengurus bayi bukan hanya tugas ibu, tapi juga ayah. Karena itu cobalah berbagi tugas dengan pasangan seperti tugas belanja keperluan bayi, serta ajarkan cara mengurus bayi pada pasangan sehingga bisa berbagi tugas dengan baik.
7. Waktu berhubungan seks yang berkurang
Beberapa hal romantis yang biasa dilakukan mungkin akan berkurang ketika sudah memiliki anak, seperti ciuman selamat malam atau berkurangnya waktu untuk berhubungan seks. Cobalah mengobarkan asmara kembali dengan melakukan hal-hal romantis berdua.
Tak hanya membuat rumah ramai, kehadiran anak ternyata juga memiliki manfaat kesehatan seperti menurunkan tekanan darah, membuat tubuh tetap aktif bergerak, menajdi lebih bahagia, membuat otak tetap waras dan lebih banyak pengetahuan.
Meski begitu ada beberapa perubahan yang terjadi ketika sudah memiliki anak, seperti dikutip dari The Sun, Kamis (29/9/2011) yaitu:
1. Waktu tidur malam yang berkurang
Sudah menjadi rahasia umum bahwa waktu tidur orangtua akan berkurang ketika ia baru memiliki anak. Tapi agar tidak kekurangan waktu istirahat maka pintar-pintarlah membagi waktu. Usahakan ikut tidur ketika si kecil tidur siang serta memberikan jadwal piket di malam hari agar pasangan tetap bisa beristirahat.
2. Memiliki sedikit waktu untuk diri sendiri
Memiliki bayi yang baru lahir akan membuat seseorang sulit berkumpul dengan teman-teman karena harus menjaga bayinya 24 jam dalam 7 hari seminggu. Untuk mengatasinya cobalah mencari cara menyenangkan diri sendiri sambil tetap menjaga bayi, atau meminta bantuan orang lain untuk menjaga bayi dan gunakan waktu untuk memanjakan diri sendiri.
3. Khawatir dengan keuangan
Umumnya bayi memiliki keperluan yang tidak sedikit sehingga mempengaruhi jumlah pengeluaran keluarga. Buatlah daftar apa saja pengeluaran bayi dan pendapatan yang diterima, sehingga bisa membuat daftar prioritas.
4. Perubahan suasana hati
Kelelahan dalam menjaga bayi dan adanya fluktuasi hormon yang belum stabil membuat seseorang memiliki suasana hati yang mudah berubah-ubah. Cobalah bermeditasi selama beberapa menit setiap harinya untuk menenangkan diri dan hindari konsumsi kafein.
5. Pasangan yang cemburu
Perempuan biasanya akan memberikan perhatian yang lebih pada buah hatinya, kondisi ini tak jarang menimbulkan kecemburuan tersendiri bagi pasangan. Jika muncul gejala seperti itu cobalah bicarakan dengan pasangan dan berilah pujian atau perhatian kecil padanya.
6. Berbagi tugas dengan pasangan
Mengurus bayi bukan hanya tugas ibu, tapi juga ayah. Karena itu cobalah berbagi tugas dengan pasangan seperti tugas belanja keperluan bayi, serta ajarkan cara mengurus bayi pada pasangan sehingga bisa berbagi tugas dengan baik.
7. Waktu berhubungan seks yang berkurang
Beberapa hal romantis yang biasa dilakukan mungkin akan berkurang ketika sudah memiliki anak, seperti ciuman selamat malam atau berkurangnya waktu untuk berhubungan seks. Cobalah mengobarkan asmara kembali dengan melakukan hal-hal romantis berdua.
Langganan:
Postingan (Atom)













