Tampilkan postingan dengan label Bayi Tabung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bayi Tabung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

Teknik Kesuburan dengan Kedelai Lebih Ampuh dari Bayi Tabung

Tidak semua orang berhasil hamil dengan menggunakan teknik bayi tabung. Kini peneliti menemukan teknik kesuburan berbahan dasar kedelai yang bisa meningkatkan kemungkinan hamil hingga 6 kali lipat.

Percobaan perawatan kesuburan yang berbahan dasar kedelai ini bisa meningkatkan kemungkinan hamil hingga 6 kali lipat, serta menghambat senyawa kimia yang bisa menyebabkan keguguran.

Berdasarkan studi ini didapatkan ketika seorang perempuan tidak berhasil hamil dengan menggunakan teknik bayi tabung atau IVF (in vitro fertilization), maka sekitar setengahnya berhasil hamil dengan menggunakan teknik berbahan dasar kedelai.

Setiap hari selalu ada perempuan-perempuan yang telah berkali-kali melakukan IVF dengan hasil negatif dan tidak ada bayi, serta pasangan yang mengalami keguguran berulang. Proses kegagalan dan keguguran ini tidak hanya merugikan faktor finansial, tapi juga berpengaruh terhadap emosional seseorang.

"Saya percaya bahwa satu dari empat perempuan yang berjuang untuk hamil memiliki sistem kekebalan tubuh yang rusak. Tingkat ekstra sel darah putih yang tinggi bisa memicu produksi bahan kimia yang dapat menyerang plasenta atau embrio," ujar Dr George Ndukwe dari Care fertility clinic di Nottingham, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (4/1/2011).

Studi ini melibatkan 100 perempuan yang mengalami kegagalan IVF berulang akibat embrio yang tidak tertanam di dalam rahim. Sekitar 50 perempuan diberikan cairan infus Intralipid, yaitu suatu cairan yang berisi zat dasar dari minyak kedelai. Sedangkan sisanya tidak diberikan cairan tersebut.

Intralipid biasanya digunakan untuk konsumsi makanan bagi pasien yang tidak bisa makan, mengalami cedera parah atau pembedahan yang membuatnya tidak bisa makan secara normal. Cairan ini diberikan melalui tabung dan masuk ke dalam pembuluh darah.

Diketahui sekitar 50 persen perempuan yang menerima cairan intralipid berhasil hamil, sedangkan kelompok yang tidak diberikan intralipid kurang dari 9 persen yang hamil. Karenanya para dokter percaya bahwa cairan intralipid bisa membantu lebih banyak perempuan dalam mewujudkan impiannya untuk memiliki anak.

Dr Ndukwe menuturkan Infus Intralipid ini memiliki harga yang lebih murah, ditoleransi dengan baik, mudah dilakukan dan lebih efektif dalam menghentikan produksi bahan kimia berbahaya. Studi terbaru ini akan dipresentasikan dalam konferensi British Fertility Society pada 6 Januari 2011.

Kesuksesan Bayi Tabung Bisa Diprediksi dengan Tes Hormon

Teknologi bayi tabung telah berhasil mengatasi berbagai hal yang menghalangi pasangan untuk punya anak, namun tetap ada kondisi tertentu yang bisa menggagalkannya. Sukses tidaknya bayi tabung kini bisa diprediksi dengan tes hormon.

Salah satu penghalang kesuksesan bayi tabung adalah usia produktif seorang perempuan, sebab pada usia tertentu rahimnya tidak lagi memungkinkan untuk pertumbuhan janin. Meski sel telur bisa dibuahi di luar kandungan, embrio itu tidak akan tumbuh ketika dikembalikan ke rahim.

Prof Scott Nelson dari Glasgow University mengatakan, usia produktif perempuan untuk bisa hamil dengan sukses melalui program bayi tabung bisa diprediksi dengan tes hormon. Hormon yang dipakai adalah hormon Anti Mullerian (AM) yang berkurang ketika rahim tidak mampu lagi ditumbuhi janin.

Survei yang dilakukannya terhadap 3.200 perempuan sehat di Skotlandia menunjukkan, beberapa perempuan mengalami penurunan kadar hormon AM lebih cepat dibanding perempuan lain yang seusia. Berapapun usianya, perempuan yang mengalami penurunan hormon AM cenderung sulit hamil lewat hubungan seks.

Hal yang sama juga berlaku untuk kehamilan melalui program bayi tabung, yakni proses mengawinkan sperma dengan sel telur di laboratorium. Jika kadar hormon AM berkurang, seorang perempuan cederung sulit menumbuhkkan embrio yang ditanam ke dalam rahimnya.

Menurut Prof Nelson, hormon AM menggambarkan aktivitas indung telur wanita seumur hidupnya dan memberikan perkiraan pasokan sel telur yang tersisa. Artinya saat kadar hormon AM menurun, sebenarnya masih ada peluang untuk hamil namun belum tentu janinnya bisa tumbuh.

Hanya saja karena belum ada data statistik yang cukup kuat, tes hormon AM untuk mengetahui peluang kesuksesan bayi tabung belum bisa diterapkan secara luas. Masih butuh penelitian lebih lanjut, namun setidaknya hasil penelitian ini memberi harapan bagi terciptanya metode tes tersebut.

"Kami sekarang dapat menafsirkan hormon Anti Mullerian dengan yakin, dan itu adalah langkah besar dalam memastikan potensi masa reproduksi pasien," ungkap Prof Nelson seperti dikutip dari WebMD, Jumat (12/8/2011).