Selasa, 04 Oktober 2011

Ibu Hamil Tak Perlu Tunda Pengobatan Kemoterapi

Selama ini banyak ibu hamil yang takut menjalani pengobatan kemoterapi. Tapi studi membuktikan bahwa ibu hamil tak perlu menunda kemoterapi, karena kemoterapi tidak membahayakan janin yang dikandungnya.

Para ilmuwan yang mempelajari hal ini menemukan ibu hamil yang melakukan kemoterapi tidak akan membahayakan janinnya. Tapi dampak buruk justru bisa terjadi jika bayi tersebut lahir secara prematur baik secara alami atau melalui induksi.

"Data menunjukkan anak-anak lebih menderita jika dilahirkan secara prematur (sebelum waktunya) daripada akibat kemoterapi saat hamil," ujar Dr Frederic Amant, seorang ginekolog onkologi dari University Hospitals Leuven di Belgia, seperti dikutip dari Reuters, Senin (3/10/2011).

Ia menuturkan tidak ada kebutuhan bagi pasien kanker yang hamil untuk melakukan aborsi atau menunda pengobatan kemoterapinya. Tapi yang harus ditekankan adalah menghindari induksi untuk melahirkan lebih dini.

"Pengalaman saya, banyak perempuan yang memutuskan untuk melakukan aborsi karena mereka beranggapan pengobatan ini mungkin bisa berbahaya bagi bayi yang ada dalam kandungannya," ujar Dr Amant.

Tim dari Dr Amant meneliti 68 kehamilan, sekitar dua pertiganya lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Ditemukan tingkat dan jenis cacat bawaan dari bayi-bayi ini mirip dengan populasi pada umumnya seperti tingkat pertumbuhan, kesehatan secara umum dan perkembangannya, serta tidak menemukan adanya kelainan jantung.

Sementara itu perkembangan kognitif yang diukur seperti tingkat IQ dan tes perilaku berada dikisaran normal, hanya anak-anak yang lahir prematur memiliki nilai IQ di bawah normal.

"Hanya sebagian kecil saja obat kemoterapi yang bisa sampai ke plasenta dan janin dan obat tersebut tidak memiliki efek kesehatan pada perkembangan janin," ungkap Dr Amant yang telah mempresentasi temuannya pada European Multidisciplinary Cancer Congress (EMCC) di Stockholm.

Karena jumlah responden yang terlibat dalam studi ini masih kecil, maka diperlukan studi lebih lanjut untuk menindaklanjuti efek jangka panjangnya.

Wanita dengan Gangguan Hati Disarankan Tak Pakai Pil KB

Pil kontrasepsi (pil KB) umumnya bisa dikonsumsi oleh siapa saja. Tapi perempuan yang diketahui memiliki gangguan atau penyakit hati disarankan untuk tidak menggunakan pil KB.

"Pil KB itu diminum dan dimetabolisme di hati, kalau hatinya sakit maka kemungkinan akan sulit untuk dimetabolisme," ujar Prof Dr dr Biran Affandi, SpOG(K), FAMM dalam acara press conference Hari Kontrasepsi Dunia 2011 di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (29/9/2011).

Prof Biran mengungkapkan untuk mengetahui apakah seseorang pernah atau memiliki penyakit hati (liver) atau tidak cukup ditanyakan saja dan tidak perlu melakukan tes fungsi liver. Karena tes ini membutuhkan biaya yang besar, nanti yang ada orang tersebut tidak jadi menggunakan kontrasepsi.

"Tapi sekarang diketahui ada pil KB baru yang membuat orang dengan penyakit hati bukan lagi menjadi kontra indikasi mutlak," ujar Prof Biran yang mewakili Asia Pacific Council on Contraception (APCOC).

Selain itu pil KB ini tidak bisa cocok untuk semua orang, seperti halnya orang yang pelupa sebaiknya tidak menggunakan pil KB karena pil ini harus diminum setiap hari dan dibutuhkan kedisiplinan. Jadi sebaiknya ia memilih suntik KB setiap 1 atau 3 bulan, atau menggunakan IUD (spiral) yang bisa bertahan hingga 4-5 tahun.

Meski begitu pil KB ini memiliki manfaat atau keuntungan lain selain sebagai kontraseptif yaitu:
1. Berfungsi menekan ovulasi sehingga mengurangi kemungkinan terkena kanker indung telur dan kista sebesar 50 persen.
2. Mengentalkan getah serviks sehingga tidak hanya spermatozoa yang tidak bisa masuk rahim, tapi juga kuman-kuman yang bisa menyebabkan penyakit kelamin sehingga menurunkan infeksi radang panggul sebesar 50 persen.
3. Menipiskan lapisan endometrium sehingga darah haid menjadi lebih sedikit yang membuat anemia lebih ringan.

Sementara itu metode kontrasepsi lain yang bisa menjadi pilihan seperti penggunaan implan, suntik KB, kontrasepsi patch, cincin vagina, kondom, vasektomi dan tubektomi, sedangkan kontrasepsi tradisional yang masih banyak digunakan masyarakat seperti sistem kalender dan juga senggama terputus (mengeluarkan penis sebelum mencapai orgasme).

Karena itu tak ada salahnya jika melakukan konseling terlebih dahulu dengan petugas kesehatan sehingga pasangan bisa menentukan kontarsepsi apa yang tepat dan cocok digunakan.

Perokok Rentan Kena Stroke 10 Tahun Lebih Cepat

Salah satu dampak buruk dari merokok adalah berisiko terserang stroke. Studi menunjukkan orang yang merokok kemungkinan terkena stroke 10 tahun lebih cepat dibanding orang yang tidak merokok.

Studi terbaru menunjukkan hubungan yang signifikan antara merokok dan stroke. Perokok memiliki risiko terkena stroke akibat gumpalan darah lepas (stroke iskemik) 2 kali lipat lebih besar, sedangkan risiko stroke akibat pembuluh darah pecah (hemorrhagic stroke) risikonya meningkat 4 kali lipat.

Peneliti mempelajari 982 pasien stroke (264 perokok dan 718 non-perokok) antara Januari 2009 sampai Maret 2011 di sebuah klinik di Ottawa. Ditemukan rata-rata orang yang merokok terkena stroke usia 58 tahun sedangkan yang non-perokok diusia 67 tahun.

"Informasi dari penelitian ini kembali memberikan bukti yang sangat penting untuk membantu orang berhenti merokok," ujar Dr Andrew Pipe dari University of Ottawa Heart Institute, seperti dikutip dari Medindia, Selasa (4/10/2011).

Dr Pipe menuturkan risiko ini karena rokok menyebabkan penumpukan kotoran pada bagian dalam pembuluh darah (aterosklerosis), kondisi ini memberikan kemungkinan yang lebih besar terhadap pembentukan bekuan atau gumpalan.

"Perokok punya kesempatan lebih besar mengalami komplikasi dan stroke berulang. Pasien yang mengalami stroke ringan 10 kali lebih mungkin mengalami stroke besar terutama jika mereka terus merokok," ungkapnya.

Lebih lanjut Dr Pipe mengungkapkan jika seseorang berhasil berhenti merokok maka risiko terkena strokenya menurun. Jika ia bisa berhenti merokok dalam kurun waktu 18 bulan sampai 2 tahun maka risiko strokenya hampir sama dengan non-perokok.

Meski begitu stroke termasuk penyakit yang bisa dicegah, yaitu melalui beberapa usaha seperti berhenti merokok, mengontrol tekanan darah, melakukan pola makan sehat serta aktif secara fisik.

Perubahan-perubahan yang Terjadi Setelah Memiliki Anak

Memiliki anak memang membawa kebahagiaan tersendiri bagi pasangan orangtua. Tapi anak juga bisa membawa beberapa perubahan pada diri orangtua, perubahan apa saja yang terjadi saat memiliki anak?

Tak hanya membuat rumah ramai, kehadiran anak ternyata juga memiliki manfaat kesehatan seperti menurunkan tekanan darah, membuat tubuh tetap aktif bergerak, menajdi lebih bahagia, membuat otak tetap waras dan lebih banyak pengetahuan.

Meski begitu ada beberapa perubahan yang terjadi ketika sudah memiliki anak, seperti dikutip dari The Sun, Kamis (29/9/2011) yaitu:

1. Waktu tidur malam yang berkurang
Sudah menjadi rahasia umum bahwa waktu tidur orangtua akan berkurang ketika ia baru memiliki anak. Tapi agar tidak kekurangan waktu istirahat maka pintar-pintarlah membagi waktu. Usahakan ikut tidur ketika si kecil tidur siang serta memberikan jadwal piket di malam hari agar pasangan tetap bisa beristirahat.

2. Memiliki sedikit waktu untuk diri sendiri
Memiliki bayi yang baru lahir akan membuat seseorang sulit berkumpul dengan teman-teman karena harus menjaga bayinya 24 jam dalam 7 hari seminggu. Untuk mengatasinya cobalah mencari cara menyenangkan diri sendiri sambil tetap menjaga bayi, atau meminta bantuan orang lain untuk menjaga bayi dan gunakan waktu untuk memanjakan diri sendiri.

3. Khawatir dengan keuangan
Umumnya bayi memiliki keperluan yang tidak sedikit sehingga mempengaruhi jumlah pengeluaran keluarga. Buatlah daftar apa saja pengeluaran bayi dan pendapatan yang diterima, sehingga bisa membuat daftar prioritas.

4. Perubahan suasana hati
Kelelahan dalam menjaga bayi dan adanya fluktuasi hormon yang belum stabil membuat seseorang memiliki suasana hati yang mudah berubah-ubah. Cobalah bermeditasi selama beberapa menit setiap harinya untuk menenangkan diri dan hindari konsumsi kafein.

5. Pasangan yang cemburu
Perempuan biasanya akan memberikan perhatian yang lebih pada buah hatinya, kondisi ini tak jarang menimbulkan kecemburuan tersendiri bagi pasangan. Jika muncul gejala seperti itu cobalah bicarakan dengan pasangan dan berilah pujian atau perhatian kecil padanya.

6. Berbagi tugas dengan pasangan
Mengurus bayi bukan hanya tugas ibu, tapi juga ayah. Karena itu cobalah berbagi tugas dengan pasangan seperti tugas belanja keperluan bayi, serta ajarkan cara mengurus bayi pada pasangan sehingga bisa berbagi tugas dengan baik.

7. Waktu berhubungan seks yang berkurang
Beberapa hal romantis yang biasa dilakukan mungkin akan berkurang ketika sudah memiliki anak, seperti ciuman selamat malam atau berkurangnya waktu untuk berhubungan seks. Cobalah mengobarkan asmara kembali dengan melakukan hal-hal romantis berdua.

Senin, 03 Oktober 2011

Mengajari Anak Cuci Tangan yang Benar

Banyak anak yang tidak mencuci tangan dengan benar atau bahkan tidak melakukannya sama sekali. Padahal kuman dapat menyebar dengan cepat pada anak-anak, yang memicu pandemi flu, pilek dan penyakit
lainnya.

Mencuci tangan dengan cara yang tepat dapat membantu mencegah penyebaran bakteri, kuman dan penyakit. Bantulah anak belajar untuk mencuci tangan dengan seksama dan mengajarkan cara yang benar dengan jelas.

Berikut cara cuci tangan yang benar untuk anak:

Waktu untuk cuci tangan

Ajarkan anak untuk mencuci tangan setiap kali habis buang air kecil atau besar, menyentuh hewan, mengupil, batuk atau bersin, bermain pasir atau bermain kotor. Ajarkan pula anak untuk cuci tangan sebelum makan atau sebelum memegang makanan apa pun. Jadikan kegiatan cuci tangan sebagai kegiatan rutin yang menyenangkan.

Pembasahan

Ingatkan anak untuk melepas cincin atau gelang sebelum mencuci tangan, sehingga seluruh bagian tangan dapat dicuci dengan baik. Ajarkan anak membasahi tangan secara menyeluruh dengan air hangat sebelum menggunakan sabun.

Pencucian

Ajarkan anak untuk menambahkan beberapa tetes sabun tangan dan gosok sabun hingga berbusa. Gosok tangan dengan sabun setidaknya 20 detik. Untuk menandai waktu, anak bisa menyanyikan lagu yang memakan waktu sekitar 20 detik, seperti 'Twinkle, Twinkle, Little Star.

Pembilasan dan pengeringan

Beritahu anak untuk membilas tangan dengan air yang mengalir selama 10 detik untuk menghilangkan sabun. Setelah itu, keringkan tangan dengan tisu atau handuk sekali pakai yang bersih dan kemudian gunakan handuk untuk mematikan kran.