Saat hamil seseorang pasti mengalami perubahan di dalam tubuhnya, termasuk pada kulit. Perubahan apa saja yang terjadi pada kulit ibu hamil?
Ibu hamil mengalami fluktuasi hormon yang bisa mempengaruhi penampilan seseorang termasuk pada kulit dan umumnya akan hilang setelah bayi yang dikandung lahir. Meski pada beberapa kasus perubahan kulit tersebut masih terjadi.
Berikut ini perubahan kulit yang terjadi ketika seseorang sedang hamil, seperti dikutip dari Lifemojo, Jumat (26/8/2011) yaitu:
1. Bercak-bercak pada kulit wajah
Produksi hormon yang berlebihan akan mengakibatkan pigmentasi meningkat yang memicu munculnya titik-titik atau bercak coklat di kulit wajah terutama pada dahi, bercak ini dikenal sebagai melasma dan chlosma. Salah satu cara mencegahnya adalah menghindari sinar matahari yang berlebihan.
2. Jerawat
Jika diketahui memiliki kulit yang rentan jerawat, maka perlu penanganan ekstra selama hamil. Kelebihan hormon akan mengaktifkan kelenjar untuk menghasilkan minyak lebih banyak sehingga memicu munculnya jerawat. Untuk itu rajin-rajinlah mencuci muka dan menjaga kulit agar tetap bersih.
3. Pembuluh darah menonjol
Saat hamil pembuluh darah kecil akan lebih menonjol di sekitar daerah wajah dan dada bagian atas, tapi akan hilang setelah kehamilan selesai atau disebut dengan spider veins.
4. Linea nigra
Selama bulan keempat atau kelima kehamilan, maka akan muncul garis gelap dari pusar menuju tulang kemaluan, kondisi ini disebut dengan linea nigra. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan hormonal, dan tidak ada yang perlu dilakukan untuk mencegahnya.
5. Stretch marks
Ini adalah sesuatu yang kebanyakan perempuan tidak bisa hindari selama hamil. Umumnya akan terlihat jelas garis-garis kemerahan di perut. Para ahli merekomendasikan untuk melakukan latihan dan menggunakan lotion khusus.
6. Pregnancy glow
Hal ini terjadi karena sirkulasi darah meningkat dalam tubuh sehingga berdampak pada kulit wajah menjadi lebih bercahaya (glow).
7. Kulit gatal
Kondisi ini biasanya terbatas pada daerah perut, karena perut jadi lebih kencang dan meregang seiring dengan pertambahan usia kehamilan. Pada kondisi tertentu gatal bisa menyebar ke daerah lengan dan kaki atau dikenal sebagai pruritic urticarial papules.
8. Varises
Saat hamil akan muncul urat biru (varises) di kaki yang terjadi karena tubuh menyesuaikan diri dalam membawa lebih banyak aliran darah untuk bayi. Intensitas nyeri yang muncul bisa dikurangi dengan tidak berdiri dalam jangka waktu lama, berjalan sebanyak mungkin dan menggunakan stocking.
Selasa, 04 Oktober 2011
Alasan Dukun Beranak Lebih Disukai Ketimbang Bidan
Profesi dukun beranak masih punya tempat istimewa di banyak masyarakat Indonesia terutama di pedesaan. Meski sudah ada bidan, penduduk desa lebih suka melahirkan ke dukun beranak. Apa alasannya?
Dukun adalah seorang perempuan yang diakui oleh masyarakat dalam mendampingi ibu hamil, pertolongan persalinan serta perawatan bayi baru lahir secara spiritual.
Umumnya masih banyak masyarakat yang mempercayakan dukun untuk membantu proses persalinannya. Hal itu diakui Bidan Yulia yang bekerja di Poskesdes Mangka, Puskesmas Bakam, Sungailiat Bangka. Menurutnya dibutuhkan sosialisasi yang terus menerus agar bidan bisa diterima warga.
Bidan Yulia menuturkan ada beberapa faktor yang membuat masyarakat masih percaya dukun yaitu:
1. Mitos kepercayaan pada dukun masih kuat, masyarakat beranggapan kalau bidan itu selesai pendidikan,ia masih muda dan belum ada pengalamannya.
2. Mitos yang ada dimasyarakat adalah kalau dibantu oleh bidan pasti dijahit, sementara masyarakat takut dengan jahitan.
3. Turunan dalam keluarga yang menggunakan dukun untuk membantu melahirkan.
4. Masalah biaya, umumnya dukun tidak menarik pungutan jadi secara sukarela saja, sedangkan bidan ada tarifnya.
5. Dukun juga biasanya memberikan ramuan-ramuan yang dipercaya bisa mempermudah persalinan dan diurut yang sangat dipercaya masyarakat.
"Rata-rata 1 desa minimal ada 1 dukun, tapi kadang ada yang 2 atau 3 dukun," ujar Bidan Yulia disela-sela acara pertemuan dengan nakes teladan di Hotel Santika, Bangka, Senin (19/9/2011).
Karenanya diperlukan sosialisasi secara terus menerus bahwa ada subsidi yang bisa diberikan jika ibu hamil mau melahirkan dibantu oleh tenaga kesehatan.
Untuk meningkatkan jumlah ibu yang melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan, Bidan Yulia pun mulai melakukan pendekatan dengan para dukun pada tahun 2008. Saat itu ia meminta para dukun untuk mengikutsertakan dirinya jika ada ibu yang melahirkan.
"Saya bilang dengan dukun 'tolong ya ajak saya kalau ada pasien melahirkan' meskipun saat itu saya hanya sebagai cadangan saja," ujar bidan yang lahir di Tempilang, Bangka Barat 3 Desember 1979.
Setelah berhasil mendekati dukun, maka tahun 2009 terbentuk kemitraan antara bidan dan dukun melalui pernyataan di atas materai, termasuk pembagian pembayaran seperti bidan tidak mengurangi pendapatan dukun.
Selain itu ada pula kelas ibu yang berisi penyuluhan mengenai segala hal tentang kehamilan, dan berusaha pula melibatkan para suami. Sehingga saat ini kesadaran masyarakat semakin tinggi dan tidak perlu lagi susah payah merujuk pasien, karena mereka dengan sendirinya sudah datang ke poskosdes.
"Alhamdulilah di desa saya saat ini sudah tidak ada ibu yang meninggal saat melahirkan, sedangkan kematian bayi terakhir terjadi pada tahun 2009," ungkap Yulia yang hampir 12 tahun menjadi bidan.
Dukun adalah seorang perempuan yang diakui oleh masyarakat dalam mendampingi ibu hamil, pertolongan persalinan serta perawatan bayi baru lahir secara spiritual.
Umumnya masih banyak masyarakat yang mempercayakan dukun untuk membantu proses persalinannya. Hal itu diakui Bidan Yulia yang bekerja di Poskesdes Mangka, Puskesmas Bakam, Sungailiat Bangka. Menurutnya dibutuhkan sosialisasi yang terus menerus agar bidan bisa diterima warga.
Bidan Yulia menuturkan ada beberapa faktor yang membuat masyarakat masih percaya dukun yaitu:
1. Mitos kepercayaan pada dukun masih kuat, masyarakat beranggapan kalau bidan itu selesai pendidikan,ia masih muda dan belum ada pengalamannya.
2. Mitos yang ada dimasyarakat adalah kalau dibantu oleh bidan pasti dijahit, sementara masyarakat takut dengan jahitan.
3. Turunan dalam keluarga yang menggunakan dukun untuk membantu melahirkan.
4. Masalah biaya, umumnya dukun tidak menarik pungutan jadi secara sukarela saja, sedangkan bidan ada tarifnya.
5. Dukun juga biasanya memberikan ramuan-ramuan yang dipercaya bisa mempermudah persalinan dan diurut yang sangat dipercaya masyarakat.
"Rata-rata 1 desa minimal ada 1 dukun, tapi kadang ada yang 2 atau 3 dukun," ujar Bidan Yulia disela-sela acara pertemuan dengan nakes teladan di Hotel Santika, Bangka, Senin (19/9/2011).
Karenanya diperlukan sosialisasi secara terus menerus bahwa ada subsidi yang bisa diberikan jika ibu hamil mau melahirkan dibantu oleh tenaga kesehatan.
Untuk meningkatkan jumlah ibu yang melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan, Bidan Yulia pun mulai melakukan pendekatan dengan para dukun pada tahun 2008. Saat itu ia meminta para dukun untuk mengikutsertakan dirinya jika ada ibu yang melahirkan.
"Saya bilang dengan dukun 'tolong ya ajak saya kalau ada pasien melahirkan' meskipun saat itu saya hanya sebagai cadangan saja," ujar bidan yang lahir di Tempilang, Bangka Barat 3 Desember 1979.
Setelah berhasil mendekati dukun, maka tahun 2009 terbentuk kemitraan antara bidan dan dukun melalui pernyataan di atas materai, termasuk pembagian pembayaran seperti bidan tidak mengurangi pendapatan dukun.
Selain itu ada pula kelas ibu yang berisi penyuluhan mengenai segala hal tentang kehamilan, dan berusaha pula melibatkan para suami. Sehingga saat ini kesadaran masyarakat semakin tinggi dan tidak perlu lagi susah payah merujuk pasien, karena mereka dengan sendirinya sudah datang ke poskosdes.
"Alhamdulilah di desa saya saat ini sudah tidak ada ibu yang meninggal saat melahirkan, sedangkan kematian bayi terakhir terjadi pada tahun 2009," ungkap Yulia yang hampir 12 tahun menjadi bidan.
Ekspresi Janin Bisa Jadi Indikator Fungsi Otak
Terkadang janin menunjukkan ekspresi wajah tertentu saat diperiksa melalui USG (ultrasonografi). Tapi ternyata ekspresi yang ditunjukkan janin bisa menjadi indikator fungsi otaknya.
Studi yang dipimpin oleh peneliti Inggris Dr Nadja Reissland menuturkan bahwa ekspresi wajah seperti tertawa dan menangis berkembang sebelum kelahiran dan menjadi lebih kompleks sampai mencapai usia kehamilan 36 minggu.
Perkembangan gerakan wajah pada janin adalah hal penting untuk mengetahui berbagai fungsi setelah kelahiran, seperti gerakan mengisap bayi saat makan, rahang dan lidah yang diperlukan untuk berbicara serta diperlukan untuk meningkatkan ikatan bayi dan orangtua setelah kelahiran.
Otot-otot wajah mulai berkembang saat usia kehamilan 8 minggu, dan semua otot yang digunakan dalam ekspresi wajah dibentuk pada usia 16 minggu. Kemungkinan ekspresi wajah pada janin antara 24-36 minggu dibentuk dari jaringan adiposa yang terbangun selama periode tersebut.
Peneliti mempelajari ekspresi wajah janin dengan menerapkan Facial Action Coding System (FACS) pada USG 4D. Seiring meningkatnya usia kehamilan, maka gerakan wajah, tungkai dan tubuh janin semakin berkorelasi dengan perkembangan struktural dari sistem saraf pusat.
Perkembangan ini menunjukkan adanya hubungan antara korteks serebral dan perifer struktur janin yang fungsional. Karenanya ekspresi janin mungkin bisa memprediksi fungsi otak janin yang sehat.
"Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa ada potensi besar dari metode ini untuk menilai perkembangan janin," ujar Dr Nadja Reissland dari Durham University, seperti dikutip dari MedIndia, Sabtu (24/9/2011).
Dr Reissland menuturkan kode dan analisis ini memungkinkan bagi peneliti untuk secara obyektif melacak peningkatan kompleksitas dari waktu ke waktu dalam menghasilkan ekspresi wajah yang dikenali.
Metode pengkodean dari gerakan wajah janin ini bermanfaat untuk:
Studi yang dipimpin oleh peneliti Inggris Dr Nadja Reissland menuturkan bahwa ekspresi wajah seperti tertawa dan menangis berkembang sebelum kelahiran dan menjadi lebih kompleks sampai mencapai usia kehamilan 36 minggu.
Perkembangan gerakan wajah pada janin adalah hal penting untuk mengetahui berbagai fungsi setelah kelahiran, seperti gerakan mengisap bayi saat makan, rahang dan lidah yang diperlukan untuk berbicara serta diperlukan untuk meningkatkan ikatan bayi dan orangtua setelah kelahiran.
Otot-otot wajah mulai berkembang saat usia kehamilan 8 minggu, dan semua otot yang digunakan dalam ekspresi wajah dibentuk pada usia 16 minggu. Kemungkinan ekspresi wajah pada janin antara 24-36 minggu dibentuk dari jaringan adiposa yang terbangun selama periode tersebut.
Peneliti mempelajari ekspresi wajah janin dengan menerapkan Facial Action Coding System (FACS) pada USG 4D. Seiring meningkatnya usia kehamilan, maka gerakan wajah, tungkai dan tubuh janin semakin berkorelasi dengan perkembangan struktural dari sistem saraf pusat.
Perkembangan ini menunjukkan adanya hubungan antara korteks serebral dan perifer struktur janin yang fungsional. Karenanya ekspresi janin mungkin bisa memprediksi fungsi otak janin yang sehat.
"Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa ada potensi besar dari metode ini untuk menilai perkembangan janin," ujar Dr Nadja Reissland dari Durham University, seperti dikutip dari MedIndia, Sabtu (24/9/2011).
Dr Reissland menuturkan kode dan analisis ini memungkinkan bagi peneliti untuk secara obyektif melacak peningkatan kompleksitas dari waktu ke waktu dalam menghasilkan ekspresi wajah yang dikenali.
Metode pengkodean dari gerakan wajah janin ini bermanfaat untuk:
- Penanda untuk mengetahui perkembangan normal
- Memiliki potensi besar untuk menilai integritas sistem saraf pusat dari janin
- Digunakan untuk mendeteksi gangguan otak fungsional atau struktural
- Membedakan antara perkembangan wajah janin yang normal dan abnormal untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dalam rahim.
Hindari Kesalahan Ini Jika Ingin Cepat Hamil
Tidak ada orang yang bisa memprediksi dengan pasti kapan perempuan akan hamil. Meski begitu ada beberapa kesalahan yang kerap dilakukan pasangan sehingga mengurangi kemungkinannya untuk hamil.
Ada berbagai alasan yang membuat seseorang sulit untuk hamil selain akibat masalah medis tertentu yang serius. Beberapa cara dilakukan seperti ada yang mencoba konsumsi obat atau teknik tertentu. Tapi kadang pasangan mengabaikan beberapa kesalahan yang umum.
Untuk itu hindari kesalahan-kesalahan berikut ini jika ingin cepat hamil, seperti dikutip dari Buzzle, Selasa (4/10/2011) yaitu:
1. Tidak menempatkan prioritas dengan tepat
Tidak salah jika orang menempatkan urutan kebutuhan untuk membeli rumah, tabungan dan lainnya terlebih dahulu sebelum merencanakan memiliki anak. Tapi ada hal penting yang harus dipahami, yaitu kondisi tubuh. Semakin lama memperlambat maka semakin kecil kemungkinan untuk hamil karena kualitas dan jumlah sel telur semakin berkurang.
2. Melakukan hubungan seks setiap hari
Banyak pasangan yang tidak tahu bahwa hubungan seks setiap hari bisa mengurangi jumlah sperma dan butuh waktu tertentu agar kembali normal. Jadi berhubungan seks setiap hari bukan meningkatkan peluang hamil tapi justru menguranginya.
3. Kesalahan dalam menghitung waktu ovulasi (masa subur)
Kebanyakan perempuan beranggapan masa ovulasinya adalah hari ke-14 sejak hari pertama menstruasi, padahal waktu ovulasi sangat bervariasi tiap orang ada yang lebih cepat atau justru lebih lambat. Jika menstruasinya teratur, maka akan lebih mudah menghitung waktu suburnya.
4. Kesalahan gaya hidup yang mempengaruhi kesuburan
Gaya hidup tertentu sangat mempengaruhi kesuburan seperti merokok, diet yang tidak seimbang atau tidak sehat atau berat badan berlebih yang bisa menghambat kehamilan.
5. Terlalu memikirkan posisi saat bercinta
Beberapa pasangan masih berpikir posisi saat bercinta pengaruhi kesempatan untuk hamil, padahal posisi tidak memainkan peran apapun, karenanya jangan terlalu stres atau mencoba gerakan-gerakan yang justru bisa membahayakan alat kelamin.
6. Stres memikirkan kehamilan
Stres yang terjadi sebelum, selama atau setelah kehamilan adalah hal yang tidak sehat, karena bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi hormon kehamilan HCG. Untuk itu usahakan tetap rileks dan santai agar kesempatan hamilnya lebih ebsar.
7. Terlalu lama menunggu untuk pergi ke dokter spesialis
Sebaiknya jangan terlalu lama menunggu untuk pergi ke dokter spesialis, jika sudah melewati waktu 1 tahun dan belum juga hamil tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter. Tapi jika ada keluhan lain seperti menstruasi yang sakit, pernah memiliki infeksi panggul atau keputihan yang parah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter lebih cepat.
Ada berbagai alasan yang membuat seseorang sulit untuk hamil selain akibat masalah medis tertentu yang serius. Beberapa cara dilakukan seperti ada yang mencoba konsumsi obat atau teknik tertentu. Tapi kadang pasangan mengabaikan beberapa kesalahan yang umum.
Untuk itu hindari kesalahan-kesalahan berikut ini jika ingin cepat hamil, seperti dikutip dari Buzzle, Selasa (4/10/2011) yaitu:
1. Tidak menempatkan prioritas dengan tepat
Tidak salah jika orang menempatkan urutan kebutuhan untuk membeli rumah, tabungan dan lainnya terlebih dahulu sebelum merencanakan memiliki anak. Tapi ada hal penting yang harus dipahami, yaitu kondisi tubuh. Semakin lama memperlambat maka semakin kecil kemungkinan untuk hamil karena kualitas dan jumlah sel telur semakin berkurang.
2. Melakukan hubungan seks setiap hari
Banyak pasangan yang tidak tahu bahwa hubungan seks setiap hari bisa mengurangi jumlah sperma dan butuh waktu tertentu agar kembali normal. Jadi berhubungan seks setiap hari bukan meningkatkan peluang hamil tapi justru menguranginya.
3. Kesalahan dalam menghitung waktu ovulasi (masa subur)
Kebanyakan perempuan beranggapan masa ovulasinya adalah hari ke-14 sejak hari pertama menstruasi, padahal waktu ovulasi sangat bervariasi tiap orang ada yang lebih cepat atau justru lebih lambat. Jika menstruasinya teratur, maka akan lebih mudah menghitung waktu suburnya.
4. Kesalahan gaya hidup yang mempengaruhi kesuburan
Gaya hidup tertentu sangat mempengaruhi kesuburan seperti merokok, diet yang tidak seimbang atau tidak sehat atau berat badan berlebih yang bisa menghambat kehamilan.
5. Terlalu memikirkan posisi saat bercinta
Beberapa pasangan masih berpikir posisi saat bercinta pengaruhi kesempatan untuk hamil, padahal posisi tidak memainkan peran apapun, karenanya jangan terlalu stres atau mencoba gerakan-gerakan yang justru bisa membahayakan alat kelamin.
6. Stres memikirkan kehamilan
Stres yang terjadi sebelum, selama atau setelah kehamilan adalah hal yang tidak sehat, karena bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang mempengaruhi hormon kehamilan HCG. Untuk itu usahakan tetap rileks dan santai agar kesempatan hamilnya lebih ebsar.
7. Terlalu lama menunggu untuk pergi ke dokter spesialis
Sebaiknya jangan terlalu lama menunggu untuk pergi ke dokter spesialis, jika sudah melewati waktu 1 tahun dan belum juga hamil tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter. Tapi jika ada keluhan lain seperti menstruasi yang sakit, pernah memiliki infeksi panggul atau keputihan yang parah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter lebih cepat.
Anak Kurus Karena Ada Gen Kurus yang Diturunkan Orangtua
Selama ini masyarakat hanya tahu tubuh gemuk yang turunkan dari orangtua. Ternyata orangtua yang memiliki tubuh kurus juga memberikan kesempatan lebih besar bagi anaknya untuk bertubuh kurus.
Peneliti mengklaim menjadi kurus adalah sesuatu yang turunkan dari keluarga. Anak-anak yang memiliki orangtua bertubuh kurus akan sangat mungkin untuk memiliki tubuh kurus karena adanya 'gen kurus' yang diturunkan.
Sebuah studi menemukan anak-anak dengan orangtua kurus akan 3 kali lebih mungkin memiliki tubuh kurus daripada anak-anak yang memiliki orangtua dengan kelebihan berat badan. Ilmuwan dari University College London menuturkan faktor-faktor genetik membantu orang untuk lebih mudah bertubuh kurus.
Untuk mengetahui seseorang tergolong bertubuh kurus atau gemuk biasanya dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT/BMI) berdasarkan tinggi dan berat badan yang dimiliki. IMT yang sehat jika nilainya antara 18,5-24,9, IMT yang tergolong kelebihan berat badan antara 25-29,9 dan obesitas jika nilai IMT nya lebih dari 30.
Studi menemukan kesempatan seorang anak untuk menjadi kurus sebesar 16,2 persen jika orangtuanya memiliki nilai IMT ideal atau kurus, jika orangtuanya kelebihan berat badan maka kemungkinan bertubuh kurus sebesar 5,3 persen, tapi jika orangtuanya obesitas maka kemungkinan bertubuh kurus hanya 2,5 persen.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine ini menemukan tidak adanya perbedaan jenis kelamin yang berarti tidak ada pengaruh apakah ibu atau ayahnya yang kurus.
"Kita tahu bahwa berat badan anak berhubungan dengan orangtuanya, tapi studi sebelumnya cenderung lebih fokus pada obesitas sehingga ini menjadi studi pertama yang menganalisis adanya gen kurus yang bisa diturunkan ke anak," ujar Dr Katriina Whitaker dari departemen epidemiologi dan kesehatan masyarakat University College London, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (5/10/2011).
Sementara itu Profesor Jane Wardle menuturkan kadang orangtua sering khawatir jika anaknya bertubuh kurus, padahal bisa jadi kondisi ini karena adanya gen kurus yang diturunkan dari orangtua.
"Semua gen memiliki 2 versi atau alel dan orangtuanya yang kurus memiliki alel kurus yang mungkin bisa diturunkan ke anaknya. Seorang anak yang mewarisi alel kurus lebih banyak dari orangtuanya maka secara alami ia akan memiliki tubuh kurus," ujar Profesor Wardle.
Peneliti mengklaim menjadi kurus adalah sesuatu yang turunkan dari keluarga. Anak-anak yang memiliki orangtua bertubuh kurus akan sangat mungkin untuk memiliki tubuh kurus karena adanya 'gen kurus' yang diturunkan.
Sebuah studi menemukan anak-anak dengan orangtua kurus akan 3 kali lebih mungkin memiliki tubuh kurus daripada anak-anak yang memiliki orangtua dengan kelebihan berat badan. Ilmuwan dari University College London menuturkan faktor-faktor genetik membantu orang untuk lebih mudah bertubuh kurus.
Untuk mengetahui seseorang tergolong bertubuh kurus atau gemuk biasanya dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT/BMI) berdasarkan tinggi dan berat badan yang dimiliki. IMT yang sehat jika nilainya antara 18,5-24,9, IMT yang tergolong kelebihan berat badan antara 25-29,9 dan obesitas jika nilai IMT nya lebih dari 30.
Studi menemukan kesempatan seorang anak untuk menjadi kurus sebesar 16,2 persen jika orangtuanya memiliki nilai IMT ideal atau kurus, jika orangtuanya kelebihan berat badan maka kemungkinan bertubuh kurus sebesar 5,3 persen, tapi jika orangtuanya obesitas maka kemungkinan bertubuh kurus hanya 2,5 persen.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine ini menemukan tidak adanya perbedaan jenis kelamin yang berarti tidak ada pengaruh apakah ibu atau ayahnya yang kurus.
"Kita tahu bahwa berat badan anak berhubungan dengan orangtuanya, tapi studi sebelumnya cenderung lebih fokus pada obesitas sehingga ini menjadi studi pertama yang menganalisis adanya gen kurus yang bisa diturunkan ke anak," ujar Dr Katriina Whitaker dari departemen epidemiologi dan kesehatan masyarakat University College London, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (5/10/2011).
Sementara itu Profesor Jane Wardle menuturkan kadang orangtua sering khawatir jika anaknya bertubuh kurus, padahal bisa jadi kondisi ini karena adanya gen kurus yang diturunkan dari orangtua.
"Semua gen memiliki 2 versi atau alel dan orangtuanya yang kurus memiliki alel kurus yang mungkin bisa diturunkan ke anaknya. Seorang anak yang mewarisi alel kurus lebih banyak dari orangtuanya maka secara alami ia akan memiliki tubuh kurus," ujar Profesor Wardle.
Langganan:
Postingan (Atom)




