Sabtu, 27 Agustus 2011

B. Tinjauan umum tentang pre-eklamsia

1. Pengertian pre-eklampsia menurut berbagai sumber

a. Pre-eklampsia adalah penyakit dengan tanda–tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. (Sarwono, 2007, Hal.282).

b. Pre-eklampsia adalah kondisi khusus dalam kehailan, ditandai dengan peningkatan tekanan darah (TD) dan proteinuria. (Vicky, 2004, Hal. 160)

c. Pre-eklamsia adalah keadaan dimana hipertensi disertai dengan proteinuria, edema, atau kedua-duanya yang terjadi akibat kehamilan setelah minggu ke-20 atau kadang-kadang timbul lebih awal bila terdapat perubahan hidatidiformis yang luas pada vili dan korialis. (Mitayani, 2009, Hal. 14)

d. Pre-eklampsia adalah kumpulan gejala-gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin, dan nifas yang terdiri dari trias yaitu hipertensi,protein urine, dan oedema (Mochtar, 1998, Hal. 199).

Diagnosis pre-eklamsia didasarkan atas adanya 3 tanda utama yaitu hipertensi, protein urine, dan oedema.

2. Etiologi

        Penyebab penyakit ini sampai sekarang belum diketahui. Telah terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab-musabah penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada yang dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Teori yang dewasa ini banyak dikemukan sebagai sebab preeklamsia ialah iskemia plasenta. Akan tetapi, dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal yang berkaitan dengan penyakit itu. Rupanya tidak hanya satu faktor, melainkan banyak faktor yang menyebabkan preeklamsia. Di antara faktor-faktor yang ditemukan seringkali sukar ditentukan mana mana yang sebab dan mana yang akibat. (sarwono, 2007, Hal. 282).

Adapun beberapa faktor predisposesi:
a. Primigravida dengan umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
b. Status sosial ekonomi yang rendah.
c. Nutrisi yang jelek.
d. Penyakit yang menyertai kehamilan seperti: diabetes mellitus, obesitas, hipertensi.
e. Paritas tinggi lebih dari 3 yang merupakan kehamilan yang beresiko.
f. Kehamilan ganda dan molahidatidosa. (Manuaba I.B.G, 1998, hal. 241).

3. Patofisiologi

Pada preeklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikin sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mangalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi.

 Sedangkan kenaikan berat badan dan oedema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intertisial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehinga terjadi perubahan pada glomerulus. (Mochtar R, 1998, Hal. 199).

4. Perubahan Yang Terjadi Pada Organ, yaitu:
a. Otak
Pada pre-eklamsia aliran darah dan pemakaian oksigen tetap dalam batas-batas normal. Pada eklamsi, resistensi pembuluh darah meninggi , ini terjadi pula pada pembuluh darah otak. Oedema yang terjadi pada otak dapat menimbulkan kelainan serebral dan gangguan visus, bahkan pada keadaan-keadaan lanjut dapat terjadi perdarahan.
b. Plasenta dan rahim
Aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan plasenta, sehingga tejadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gangguan gawat janin. Pada pre-eklamsi dan eklamsi sering terajdi peningkatan tonus rahim dan kepekaannya tehadap rangsang, sehingga terjadi partus prematur.
c. Ginjal
Filtrasi glomerulus berkurang oleh karena aliran ke ginjal menurun. Hal ini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerulus menurun, sebagai akibatnya terjadilah retensi garam dan air. Filtrasi glomerulus dapat turun sampai 50% dari normal sehingga pada keadaan lanjut dapat terjadi oliguria dan anuria
d. Paru-paru
Kematian ibu pada pre-eklamsi dan eklamsi biasanya disebabkan oleh oedema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. Bisa pula karena terjadinya aspirasi pneumonia, atau abses paru.
e. Mata
Dapat dijumpai adanya oedema retina dan spasme pembuluh darah. Bila terdapat hal-hal tersebut, maka harus dicurigai terjadinya pre-eklamsia berat.. Pada pre-eklamsia berat dapat terjadi ablasio retina yang disebakan edema intra-okuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan.

f. Keseimbangan air dan elektrolit

Pada pre-eklamsia ringan biasanya tidak dijumpai perubahan yang nyata pada metabolisme air, elektrolit, kristaloid, dan protein serum. Jadi tidak terjadi keseimbangan elektrolit. Gula darah, kadar natrium bikarbonat, dan pH darah berada pada batas normal. Pada pre-eklamsia berat dan eklamsi kadar gula darah naik sementara, asam laktat dan asam organik lainnya naik, sehingga cadangan alkali akan turun, (wiknjosastro.H 2002, hal 283-287)
g. Jantung

Pada sebagian besar penderita yang mati karena eklamsia, jantung biasanya mengalami degeneratif pada miokardium. Sering ditemukan degenerasi lemak dan cloudy swelling serta nekrosis dan perdarahan.

h. Hati

Alat ini biasanya normal, pada permukaan dan pembelahan pada tempat-tempat pembelahan yang tidak teratur. Pada pemeriksaan mikroskopik dapat ditemukan perdarahan dan nekrosis pada tepi lobulus disertai thrombosis pada pembuluh.
i. Kelenjar adrenal

Kelenjar adrenal dapat menunjukkan kelainan berupa perdarahan dan nekrosis dalam berbagai tingkat. (Mochtar R, 1998, hal.200).

5. Gambaran klinik Pre-eklamsia (Wiknjosastro, 2006. Hal 287)

Biasanya tanda-tanda preeklamsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada pere-eklamsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. Pada pre-eklamsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal, skotoma, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual dan muntah. Gejala-gejala ini sering ditemukan pada pre-eklamsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklamsia akan timbul. Tekanan darahpun meningkat lebih tinggi, edema menjadi lebih umum, dan proteinuria bertamah banyak.
6. Pencegahan Pre-eklamsia
a. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (pre-eklamsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
b. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-eklamsia kalau ada faktor-faktor predisposisi.
c. Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diet rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan (Mochtar R,1998, hal. 202).
7. Penanganan Pre-eklamsia
Penanganan Pre-eklamsia Ringan
a. Penanganan rawat jalan pasien pre-eklamsia ringan:
1) Banyak istirahat (berbaring/tidur miring).
2) Diet: cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.
3) Sedativa ringan: tablet Phenobarbital 3 x 30 mg, atau diazepam 3 x 2 mg per oral selama 7 hari .
4) Roborantia.
5) Kunjungan ulang setiap satu minggu.
6) Pemeriksaan laboratorium: hemoglobin, hematokrit, trombosit, urine lengkap, asam urat, darah, fungsi hati, fungsi ginjal.
b. Penanganan rawat tinggal pasien pre-eklamsia ringan berdasarkan kriteria.
1) Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejala-gejala pre-eklamsia seperti: kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih per minggu selama 2 kali berturut-turut ( 2 minggu).
2) Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda pre-eklamsia berat.
Bila setelah 1 minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan maka pre-eklamsia ringan dianggap pre-eklamsia berat.
Perawatan Obsetri Pasien Pre-Eklamsia Ringan

a. Kehamilan preterm (kurang 37 minggu)

1) Bila desakan darah mencapai normotensif selama perawatan, presalinan ditunggu sampai aterm.
2) Bila desakan darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
b. Kehamilan aterm (30 minggu atau lebih)
Persalinan ditunggu sampai terjadi usia persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada taksiran tanggal persalinan.
Penanganan Pre-Eklamsi Berat
a. Pemberian sedative yang kuat untuk mencegah timbulnya kejang-kejang.
b. Apabila sesudah 12-24 jam bahaya akut dapat di atasi, dapat difikirkan cara terbaik untuk menghentikan kehamilan guna mencegah bahaya eklamsia.
c. Sebagai pengobatan untuk mencegah timbulnya kejang-kejang dapat diberikan:

1) Larutan Sulfat Magnesium 40% sebanyak 10 ml (4 gram) disuntikan intramuskuler bokong kiri dan kanan sebagai dosis permulaan, dan dapat di ulang 4 gram tiap 6 jam menurut keadaan.
      2) Klorpromazin 50 mg Intrsmuskulus.
                               3) Diazepam 20 mg intramuskulus.
8. Komplikasi pre-eklamsia (Wiknjosastro, 2006. Hal 296-297)
a. Solusio plasenta
Komplikasi ini biasa terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre-eklamsia.
b. Hemolisis
Penderita dengan pre-eklamsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis yang di kenal dengan ikterus. Belum diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau darah merah. Nekrosis periportal hati yang ditemukan pada outopsi penderita eklamsia dapat menerangkan ikterus tersebut.
c. Perdarahan otak
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklamsia.
d. Kelainan mata
Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai seminggu, dapat terjadi. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina, hal ini merupakan tanda gawat akan terjadinya epopleksia serebri.
e. Edema paru-paru
Zuspan (1978), menemukan hanya satu penderita dengan 69 kasus eklamsia disebabkan karena payah jantung.
f. Nekrosis hati
Nekrosis periportal hati pada pre-eklamsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. Kelainan ini di duga khas untuk eklamsia, tetapi ternyata juga ditemukan pada penyakit lain. Kerusakan sel-sel hati, terutama penentuan enzim-enzimnya.
g. Kelainan ginjal
Kelainan ini berupa endoteliosis glumerulus, yaitu pembengkakan sitoplasma sel endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul adalah anuria sampai gagal ginjal.
h. Komplikasi lain yang dapat terjadi berupa lidah tergigit dan fraktus karena jatuh akibat kejang pneumonia aspirasi.
i. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra uterin.

Jumat, 26 Agustus 2011

C. Tinjauan Tentang Variabel Yang Diteliti

1. Umur
Pada dasarnya umur seseorang menunjukan tentang lamanya ia hidup. Pre-eklamsia sering ditemukan pada ibu hamil yang dalam usia muda dan tua. Disebutkan bahwa < 20 tahun dan > 35 tahun merupakan kehamilan yang beresiko terjadinya pre-eklamsia. Apa yang menyebabkan sampai kini belum diketahui, dan belum ada teori yang menjelaskan (Manuaba I.G.B, 1998, hal 128).

2. Gravida

Gravida adalah wanita yang sedang hamil tanpa memandang hasil akhir kehamilan. Gravida menggambarkan kehamilan wanita tersebut tanpa mempersoalkan apakah anaknya lahir hidup atau meninggal. Dan untuk itu kehamilan pertama disebut primigravida dan kehamilan berikutnya disebut multigravida. Pada kehamilan frekuensi terjadinya pre-eklamsia lebih tinggi dibanding dengan multigravida karena pada kehamilan pertama pembentukan blocking anti body terhadap antigen plasenta belum sempurna sehingga respon immune yang tidak menguntungkan terhadap histoin kompabilita plasenta. (Sarwono, 2002)

Kamis, 25 Agustus 2011

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL

A. Dasar Pemikiran Variabel yang diteliti


Pre-eklamsia adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria, serta edema yang timbul pada usia kelahiran 20 minggu atau lebih, dalam persalinan dan bisa pula dalam masa nifas. Dengan makin tuanya umur kehamilan makin besar pula kemungkinan timbulnya penyakit tersebut. Sedangkan pada molahidatidosa penyakit ini menyerang sebelum umur kehamilan 20 minggu.


Dalam rangka menurunkan angka kematian maternal dan perinatal akibat pre-eklamsia deteksi dini dan penangan yang adekuat terhadap kasus preeklamsia ringan harus senantiasa diupayakan. Hal tersebut hanya dapat dilakukan dengan mempertajam kemampuan diagnosa para penyelenggara pelayanan bumil dari tingkat terendah sampai teratas, dan melakukan pemeriksaan bumil secara teratur. Mengingat komplikasi terhadap iu dan bayi pada kasus-kasus preeklamsia, maka sudah selayaknyalah semua kasus-kasus tersebut dirujuk kepusat pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas penanganan kegawatdaruratan ibu dan neonatal.


Preeklamsia merupakan salah satu faktor penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi terutama di Negara berkembang seperti Indonesia. Dan ini akan terus meningkat apabila usaha untuk mencegah tidak dilakukan secara berkualitas dan professional pada saat pemeriksaan ibu hamil (ANC) secara teratur sehingga kemungkinan untuk mendeteksi segala hal yang membahayakan bagi ibu hamil lebih cepat. Terjadi atau tidaknya preeklamsia dan eklamsia, dipengaruhi beberapa faktor termasuk umur ibu dan gravid. Dari masing-masing faktor tersebut dirumuskan secara sistematis sebagai berikut:


1. Pada dasarnya umur seseorang merupakan tentang lamanya ia hidup, menurut Manuaba, aspek umur ibu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya pre-eklampsia. Beberapa literatur yang digunakan disebutkan umur kehamilan kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun merupakan faktor resiko terjadinya pre-eklampsia. Dengan demikian terjadi atau tidaknya pre-eklampsia diperankan oleh umur ibu.


2. Gravida adalah wanita yang sedang hamil tanpa memandang hasil akhir kehamilan. Gravida menggambarkan kehamilan wanita tersebut tanpa mempersoalkan apakah anaknya lahir hidup atau meninggal. Dan untuk itu kehamilan pertama disebut primigravida dan kehamilan berikutnya disebut multigravida. Pada kehamilan frekuensi terjadinya pre-eklamsia lebih tinggi dibanding dengan multigravida karena pada kehamilan pertama pembentukan blocking anti body terhadap antigen plasenta belum sempurna sehingga respon immune yang tidak menguntungkan terhadap histoin kompabilita plasenta.


B. Bagan Kerangka Konsep



C. Defenisi Operational Variabel Dan Kriteria Objektif.

1. Preeklamsia

a. Definisi operasional

preeklamsia adalah penyakit dengan tanda–tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan.

b. Kriteria Objektif


1) Preeklamsia ringan :bila ditemukan gejala seperti hipertensi (140/90 mmHg), protein lebih dari 0,3 g/l dalam urine, serta oedema pada tangan dan mata.

2) Preeklamsia berat :bila ditemukan gejala seperti hipertensi (160/110 mmHg), proteinuria 5 gram dalam 24 jam, oliguri 400 cc dalam 24 jam, gangguan penglihatan, oedema paru-paru.

2. Umur ibu

a. Definisi operasional

Umur ibu adalah Lamanya hidup ibu mulai dari lahir sampai ketika terdiagnosa pre-eklampsia yang dihitung berdasarkan ulang tahun terakhir seperti yang tercantum dalam status pasien.

b. kriteria objektif:

1) Risiko tinggi : Bila umur ibu <20 tahun dan >35 tahun.
2) Risiko rendah : Bila umur ibu 20-35 tahun.

3. Gravida

a. Definisi operasional

Gravida dalah wanita yang sedang hamil tanpa memandang hasil akhir kehamilan.

b. kriteria objektif:

1) Risiko tinggi : Bila ibu dalam kehamilan 1 dan atau >3

2) Risiko rendah : Bila kehamilan yang 2-3

Rabu, 24 Agustus 2011

BAB IV METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memaparkan kondisi yang ada. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari studi dokumentasi Rumah Sakit Umum Daerah Dompu selama periode januari s.d desember 2010.


B. Lokasi dan waktu penelitian


Penelitian ini di laksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Dompu Nusa Tenggara Barat pada tanggal 06 s.d 11 Mei 2011.


C. Populasi dan Sampel


1. Populasi


Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh ibu hamil yang dilayani dan dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dompu Nusa Tenggara Barat, dalam masa penelitian ini dengan jumlah seluruh ibu 1.079 orang pada periode januari s.d desember 2010.


2. Sampel

Sampel penelitian ini adalah semua ibu hamil yang mengalami preeklamsia yang tercatat dalam kohort ibu hamil di Rumah Sakit Umum Daerah Dompu Nusa Tenggara Barat, sebanyak 106 orang pada periode januari s.d desember 2010


3. Metode Penarikan Sampel



Metode penarikan sampel dilakukan secara porposive sampling yang berarti seluruh kejadian pre-eklamsia dari periode Januari s.d Desember 2010 diambil secara keseluruhan, yaitu sebanyak 106 orang.


D. Pengumpulan Data



Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari kohor ibu hamil di Rumah Sakit Umum Daerah Dompu selama masa periode Januari s.d Desember 2010 dengan menggunakan tehnik cek list.


E. Pengolahan Data dan Penyajian Data


Data yang diperoleh dikumpulkan dan diolah secara manual menggunakan kalkulator dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase disertai penjelasan-penjelasan berdasarkan tujuan penelitian.


F. Analisa


Data dianalisis secara frekuensi dan persentase (p), dengan rumus Jumlah pengamatan (f) dibagi Jumlah sampel (n) dikali 100 persen.

Selasa, 23 Agustus 2011

A. Hasil Penelitian


Berdasarkan hasil penelitian terhadap 1.079 ibu hamil yang dilayani selama periode januari s.d desember 2010, ternyata ditemukan sebanyak 106 orang yang mengalami preeklamsia dengan gambaran kejadian preeklamsia ringan 64 orang, preeklamsia berat 42 orang berdasarkan diagnosis yang tertera dalam status pasien. Data tersebut kemudian diolah lebih lanjut sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya dan digambarkan sebagai berikut :

1. Karateristik Sampel

Tabel 1

Karateristik Kejadian Pre-Eklampsia Pada Ibu Hamil di Rumah Umum Daerah Dompu Periode Januari s.d Desember tahun 2010.

Kejadian preeklamsia
Frekuensi
Persentase
Ringan
Berat
64
42
70,37
39,63
Jumlah
106
100
Sumber : Data sekunder dari status pasien
         Berdasarkan tabel 1 diatas, dapat dilihat bahwa dari 106 ibu hamil yang menderita pre-eklampsia di Rumah Sakit Umum Daerah Dompu Nusa Tenggara Barat selama periode januari s.d desember 2010, terdapat 64 orang (70,37%) yang menderita pre-eklampsia ringan. Sementara preeklamsia berat 42 orang (39,63%).


2. Umur Ibu


Tabel 2
Distribusi Kejadian Pre-eklampsia Menurut Umur Ibu Di Rumah Sakit Umum Daerah Dompu Periode Januari s.d Desember Tahun 2010.

Umur
pre-eklampsia
Frekuensi
Persentase
Risiko Tinggi (<20 dan >35 tahun )
29
27,36
Risiko Rendah (20 – 35 tahun )
77
72,64
Jumlah
106
100
Sumber :Data sekunder dari status pasien

Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukkan bahwa dari 106 kasus preeklampsia di Rumah Sakit Umum Daerah Dompu periode januari s.d sember 2010 lebih banyak didapatkan pada kelompok umur 20-35 tahun yaitu sebanyak 77 orang dengan presentase 72,64% sedangkan pada kelompok umur <20 dan >35 tahun sebanyak 29 orang atau 27,36%.

3. Gravida

Tabel 3
Distribusi Kejadian Pre-eklampsia Menurut gravida Di Rumah Umum Daerah Dompu Periode januari s.d desember Tahun 2010.


Gravida
Kejadian pre-eklampsia
Frekuensi
Persentase
Risiko Tinggi (1 dan >3)
74
69,81
Risiko Rendah (2-3)
32
30,19
Jumlah
106
100
           Sumber :Data sekunder dari status pasien
          Berdasarkan tabel 3 di atas tampak bahwa jumlah penderita preeklamsia paling banyak terdapat pada gravida 1 dan > 3, yaitu 74 orang (69,81%) sedangkan pada gravida 2-3 adalah 32 orang (30,19%).